Penting Nih, Panduan Orang Tua Menerapkan Aturan Baru di Rumah

Penting Nih, Panduan Orang Tua Menerapkan Aturan Baru di Rumah

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Kalau kita lagi berbicara tapi nggak ada yang mendengarkan itu rasanya nggak enak ya, Bun. Pun saat kita memberitahu anak untuk membersihkan kamar, tapi nggak dilakukan. Geregetan.

Kalau anak sudah ngeyel begini, enaknya bagaimana ya. Nah, memasuki tahun baru, sepertinya jadi waktu yang tepat menerapkan aturan baru di rumah juga nih.

Sebelum membuat peraturan baru, panduan ini mungkin bisa berguna bagi para orang tua, seperti dilansir ChicagoParents.

1. Konsisten

Setiap orang membutuhkan peraturan. Selanjutnya peraturan harus diterapkan dengan konsisten oleh orang tua.

"Aturan membuat anak-anak tahu apa yang diharapkan, menjaga agar anak tetap sehat, membantu anggota keluarga untuk lebih baik dan mengkomunikasikan nilai kita kepada anak-anak," kata Karen Jacobson, salah satu pendiri Parenting Perspectives, sebuah usaha pembinaan orang tua di Chicago.

Kalau orang tua menetapkan aturan dengan benar dan konsisten, maka akan ada kerja sama antar anggota keluarga jadi lebih besar. Selain itu perilaku buruk juga bisa berkurang.

dr Meta Hanindita SpA dari RSUD Dr Soetomo Surabaya pernah mengatakan kepada detikHealth, konsisten menjadi faktor utama mendisiplinkan anak. Misalnya, membuat aturan anak harus mandi pukul 05.30 pagi tapi besoknya, karena orang tua malas bangun pagi, jam mandi anak mundur menjadi pukul 07.00. Sedangkan lusanya, anak mandi pukul 06.30.

"Ini sebaiknya dihindari jika memang ingin membentuk anak disiplin dan teratur. Atau contoh lain membuat aturan anak nggak boleh makan cokelat tapi karena nggak tega, peraturan bisa berubah setiap saat. Anak malah bingung," kata dr Meta.

Menurut Lauren Bondy, pendiri Jacobson di Perspektif Parenting, jangan lupa memastikan kita dan suami memiliki aturan yang sama.

2. Bikin Bagan

Bunda bisa memulai dengan menggunakan bagan untuk menambahkan struktur yang bisa membantu anak mengembangkan kebiasaan positif. Itu saran dari parenting coach bersertifikasi, Beth Miller.

"Bagi kebanyakan anak, sebuah bagan visual membantu mengingatkan mereka dengan tugas dan mereka bisa memeriksa yang bisa membantu memperkuat kebiasaan tersebut," terangnya.

3. Hindari Hadiah

Memberi penghargaan berupa barang atau hadiah hanya membuat anak-anak fokus pada penghargaan ketimbang melakukan apa yang benar, yang diharapkan, atau yang bermoral. "Kami ingin anak-anak secara intrinsik termotivasi, jadi memberi penghargaan kepada mereka karena melakukan apa yang diharapkan benar-benar mengganggu tujuan tersebut dan bahkan bisa berbahaya," kata Jacobson.

"Ketika anak-anak membantu, bersikap baik, hormat atau melakukan tugas secara mandiri, mereka tentu saja merasa baik dan tak perlu memberi imbalan tambahan," imbuhnya.

4. Libatkan Anak dalam Pekerjaan Rumah Tangga

Kata Bondy, anak-anak juga perlu diajarkan melakukan tugas dan pekerjaan rumah. "Tugas yang mengajarkan anak-anak berkontribusi terhadap kesejahteraan keluarga itu penting. Mereka belajar bahwa setiap anggota keluarga bisa berkontribusi dan merasa berharga karenanya," tuturnya.

Masih menurut Bondy, cara terbaik bagi anak untuk bertanggung jawab adalah dengan memberi mereka tanggung jawab. Lalu apa pekerjaan rumah yang bisa dilakukan anak? Tentu disesuaikan dengan kemampuannya, misalnya saja menyiram tanaman, mematikan lampu, membawa surat, atau meletakkan gelas atau piring ke tempat cuci piring.

5. Jangan Memberi Uang

Pernah nggak Bun, bilang ke anak bahwa kita akan memberi mereka uang kalau mereka membantu membeli beberapa keperluan dapur di warung. Kalau iya, besok-besok jangan dilakukan lagi deh, Bun.

Soalnya dengan memberikan uang tunai kepada anak setiap kali dia selesai melakukan pekerjaan rumah tangga atau membantu kita, efeknya nggak bagus. Mereka akan terbiasa mendapatkan imbalan atas sesuatu yang telah dilakukan. Jadi nanti kalau kita nggak ada uang untuk diberikan ya mereka nggak mau melakukannya.

6. Menjadi Positif

Saat membuat aturan, baiknya kita banyak menggunakan kalimat positif. Misalnya nih, Bun: Taruh piring kotor di tempat cuci piring. Ketimbang menggunakan kalimat negatif seperti: Jangan taruh piring kotor sembarangan.

Ada alasannya lho, kenapa kita perlu menggunakan kalimat positif. Beth Miller berpendapat, anak-anak akan cenderung mematuhi peraturan jika pakai kalimat positif.

"Saya mendorong orang tua untuk menggunakan energi dan perhatian mereka untuk fokus mendorong perilaku positif daripada merencanakan hukuman," ucap Miller.





[sumber]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar