Sudahkah Kita Jadi Orang Tua yang Bisa Membahagiakan Anak?

Sudahkah Kita Jadi Orang Tua yang Bisa Membahagiakan Anak?

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Menjadi orang tua bukan pekerjaan yang mudah. Pernah nggak Bunda punya pertanyaan, 'Apakah aku sudah melakukan hal yang benar sebagai ibu?', atau 'Dengan apa yang udah kulakukan sebagai ibu, apa si kecil bahagia dan nggak sebal sama aku ya?'.

Sebagai ibu tiga anak, saya mungkin salah satu dari sekian banyak bunda yang punya pertanyaan kayak gitu. Kadang kala, ketika memandang wajah anak-anak saat sudah terlelap saya berpikir apakah saya ini udah jadi orang tua yang baik buat anak-anak. Bunda pernah juga mengalami hal serupa dengan saya?

Kata psikolog anak Dr Kimberley O'Brien dari The Quirky Kid Clinic, kekhawatiran apakah kita sudah jadi orang tua yang baik buat anak jauh lebih umum daripada yang kita sadari, Bun. Sehingga kadang kala orang tua merasa seperti gagal dalam mendidik anak-anaknya dan perasaan kayak gini muncul terutama saat kita sedang stres.

"Tapi perlu diingat begitu Anda punya sandang, papan, dan papan untuk memenuhi kebutuhan keluarga hal yang paling penting bagi anak-anak adalah merasakan cinta tanpa pamrih dan saya pikir kebanyakan dari kita tidak memiliki masalah dengan mengungkapkan cinta seperti itu," kata Kimberley seperti dilansir Honey Nine.

Kalau dari sudut pandang praktis, Kimberley bilang ada nih beberapa kondisi yang dialami anak yang menandakan kalau kita sudah menjadi orang tua yang cukup baik buat mereka:

1. Anak Bisa Tidur Nyenyak

Masalah tidur menjadi alasan umum anak-anak dibawa ke psikolog anak, Bun. Kata Kimberley, kalau anak mudah tidur dan tertidur sepanjang malam dan kita bisa bersantai, kemungkinan kehidupan anak berjalan baik.

"Jika seorang anak cemas atau kecewa dengan masalah yang sedang berlangsung, inilah area pertama kesehatan mereka yang terkena dampaknya," jelas Kimberley.

Jika anak butuh berjuang hanya untuk tidur ketika nggak ada masalah pada kesehatan mereka, mintalah saran dari dokter keluarga dan luangkan waktu untuk bertanya ke mereka sebelum tidur apa yang dirasakan.

"Jam terakhir ini adalah saat yang tepat bagi anak-anak untuk mendownload segala sesuatu yang sedang terjadi, tapi mereka perlu mencari pendengar yang bersedia dan punya waktu luang," kata Kimberley.

2. Anak Punya Jaringan Sosial yang Baik

Kalau anak punya hubungan yang baik dan sehat dengan teman-temannya, kita bisa sedikit bernapas lega, Bun. Kenapa?

"Interaksi dengan teman seusianya adalah bagian penting dari perkembangan sosial dan emosional mereka, jadi sepanjang anak menunjukkan tanda-tanda mereka menikmati kegiatan sekolah berarti hari-hari mereka cenderung berjalan dengan baik," katanya.

Kalau Bunda khawatir si kecil sulit berteman, Kimberley menyarankan cobalah ketika mengatur jadwal bareng anak sisihkan waktu untuk mengajaknya bermain dan bersosialisasi dengan teman-temannya.

3. Anak Sedang Menguji 'Batas-batas' Kita

Ada kalanya anak-anak mulai melakukan beberapa hal yang mereka inginkan tapi bukan yang kita inginkan. Kalau seperti ini bisa bikin frustrasi ya, Bun. Tapi, kata Kimberley ini menjadi pertanda kuat memang beginilah harusnya sesuatu berjalan.

"Apabila anak mulai bersikeras mereka diizinkan untuk berjalan sendiri ke sekolah atau mengendarai sepeda mereka ke rumah temannya, cobalah mengobrol dengan mereka tentang alasannya melakukan itu," kata Kimberley.

Beberapa anak lebih berani dan merasa baik-baik aja ketika jauh dari orang tuanya sebab mereka merasa percaya diri dengan kemampuannya. Saat anak punya percaya diri yang kuat, berarti kita sebagai orang tua bisa menanamkan nilai itu pada anak.

4. Anak Tampak Bahagia

Kadang, kita mengabaikan hal-hal sederhana dan cenderung mencari makna pada sesuatu yang rumit. Misalnya soal bahagia nggak sih anak kita? Nggak perlu pakai parameter anak bahagia berarti mereka menyampaikan kalau mereka bahagia punya orang tua seperti kita.

"Apabila anak Anda menunjukkan tanda-tanda baik melalui bernyanyi, bersenandung atau bersiul secara teratur. Mereka juga baik hati, penyayang dan bergaul dengan baik dengan teman dan anggota keluarga, ini adalah pertanda terbaik kalau mereka bahagia," kata Kimberley.

Tapi, apabila terlihat kondisi sebaliknya, Kimberley merekomendasikan untuk menyediakan waktu barbicara dengan anak apa yang mereka rasakan.

"Anda mungkin telah membebankan anak Anda dengan tugas yang dianggap penting seperti banyak pekerjaan rumah, kegiatan ekstrakurikuler dan kewajiban dalam masyarakat. Tapi bagus untuk mundur selangkah dan bertanya pada diri sendiri siapa anak Anda dan apa yang paling mereka sukai," katanya.

Kimberley menambahkan anak-anak yang bahagia tahu kalau ada seseorang yang mendengarkan mereka sehingga anak-anak merasa dirinya penting.

Kalau bicara tentang anak bahagia, Penulis buku 'The Happiest Kids in The World' Michele Hutchison menceritakan tentang alasan anak-anak di Belanda bisa bahagia. Menurutnya, keluarga di Belanda sangat mementingkan kebersamaan. Orang tua dan anak-anak sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama dan saling mendekatkan diri.

"Mereka sangat menaruh nilai tinggi dalam kehidupan berkeluarga dan komunikasi. Salah satunya dengan makan bersama. Anak-anak di Belanda memiliki tingkat aktivitas sarapan yang tinggi sebelum ke sekolah," kata Michele seperti dikutip dari BBC.

Di sekolah sendiri tidak ada tekanan akademis berlebih yang diberikan untuk anak. Sekolah di Belanda juga jarang memberikan anak tes atau pekerjaan rumah alias PR, Bun.




[sumber]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar