Plastisitas Otak: Mengapa Penting Bagi Parenting

Plastisitas Otak: Mengapa Penting Bagi Parenting

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Tahukah Bunda, bahwa setiap anak yang terlahir di dunia ini telah dikaruniai dengan potensi yang luar biasa? Tepat sekali. Tuhan menganugerahi 100 miliar sel otak pada setiap bayi normal yang lahir. Masing-masing sel otak dapat memiliki sambungan sampai 10.000-15.000 sambungan sel otak, sehingga anak berpotensi memiliki lebih dari 100 triliun sambungan sel otak.

Dulu ada pemahaman bahwa Intelligent Quotient (IQ) adalah bawaan lahir dan bersifat tetap. Tapi kini kita tahu bahwa intelegensi bersifat fluid, bisa berubah. Otak manusia yang terdiri dari sel dan sambungannya berkembang terus dari bayi sampai akhir hayatnya. Ini karena otak kita bersifat plastis (fleksibel), artinya bisa berubah struktur dan fungsi sebagai respons terhadap pengalaman, situasi dan pikiran seseorang. Semua yang kita lihat, pikir, dengar dan rasakan akan membentuk sel-sel otak dan sambungan-sambungan yang unik. Jadi, jika kita mengubah cara berpikir kita, struktur otak kita juga berubah.

Salah satu cara mengubah struktur otak adalah dengan membentuk sambungan/koneksi antar sel otak. Pengalaman baru menumbuhkan sambungan antar sel otak yang disebut sinaps. Sinaps-sinaps ini akhirnya membentuk jalur/sirkuit.

Anak yang memainkan alat musik misalnya, akan tumbuh jalur musik di otaknya. Jalur-jalur tersebut akan semakin kuat jika sering dilatih. Anak yang belajar musik dan mencoba memainkan sebuah lagu, awalnya masih terbata-bata dan banyak salahnya. Akan tetapi, makin sering dilatih, permainan musiknya akan semakin lancar. Ini tanda bahwa jalur dalam otaknya makin kuat dan efisien.

Anak yang sering membaca, bermain musik, olahraga memiliki jalur yang kuat di bidang-bidang itu dalam otaknya. Begitu pula jika anak banyak nonton televisi, main game, dan chatting, maka jalur-jalur itulah yang semakin kuat dalam otaknya.

Namun, plastisitas otak juga bersifat kompetitif. Artinya, yang dilatih akan bertumbuh terus, sedangkan yang tidak dilatih perlahan-lahan akan mati. Pada usia remaja, secara natural tubuh akan memangkas sel-sel otak secara besar-besaran sehingga sel-sel otak yang terlatih dan kuat sambungan neuronnya saja yang akan bertahan, sementara sisanya sebagian besar akan mati. Anak tidak hanya akan mulai hidup dengan sel-sel otak yang lebih sedikit, tetapi juga memiliki kebiasaan, pola pikir, dan nilai-nilai yang akan mempengaruhi hidup mereka saat dewasa nanti.
Dengan memahami bahwa otak kita bersifat plastis dan kompetitif, kita dapat melihat pentingnya peran pengasuhan dan pendidikan anak yang tepat sehingga kita dapat berperan aktif dalam membentuk otak anak kita.







[sumber]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar