Belajar Pendidikan Karakter dari Pemuda Arab, Thalhah bin Ubaidillah

Belajar Pendidikan Karakter dari Pemuda Arab, Thalhah bin Ubaidillah

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Sahabat Abi dan Ummi, bagaimana kabarnya? Semoga kita semua selalu berada dalam naungan Allah Swt. Sahabat Abi dan Ummi, coba kita lihat beberapa tahun belakangan ini? Bagaimana kondisi para remaja Indonesia yang nanti akan menjadi pemuda –pemudi Indonesia? Remaja kita banyak yang tawuran, rasa kepedulian apda sesama sudh berkurang, terlibat narkoba, dan pergaulan bebas. Kita melihat lebih jauh ke belakang, pada zaman Rasulullah Saw, pemuda-pemuda Islam menyibukkan diri untuk menuntut ilmu dan berjuang di jalan Allah. Ada seorang pemuda yang keberanian dan loyalitasnya dalam berjuang membela agama Allah sangat luar biasa. Beliaulah Tahlah bin Ubaidillah. Dari beliau kita bisa mengetahui karakter para pemuda Islam pada zaman itu sangat mulia. Bagiamana kisah Thalhah bin Ubaidillah?

Thalhah  bin Ubaidillah, beliaulah syahid yang berjalan di muka bumi

Ketika perang Uhud, Thalhah bin Ubaidillah menjadi pelindung utama Rasulullah Saw. dari serangan anak panah yang bertubi-tubi membidik Rasulullah Saw. Dengan keberanian, Thalhah bin Ubaidillah melompat dan memeluk Rasulullah dengan tangan kirinya, bersegra menuju bukit untuk menyelamatkan Rasulullah Saw. Tangan kanan Thalhah bin Ubaidillah dengan sigap menghalangi pedang dan anak panah dari kaum musyrikin. Atas izin Allah SWT, Rasulullah Saw. terselamatkan. Thalhah bin Ubaidillah kembali ke medan perang untuk melanjutkan perjuangan hingga beliau ditemukan pingsan dengan puluhan tusukan anak panah. Orang-orang mengira beliau telah gugur, namun ternyata ia belum wafat hingga Rasulullah Saw mengatakan “ siapa yang ingin melihat orang berjalan di muka bumi setelah kematiannya, maka lihatlah Thalhah,” sabda Rasulullah. Hingga saat itu beliau diberi gelar syahid yang berjalan diatas bumi.

Nah, Abi dan Ummi, dari ksiah ini, kita dapat mengetahui keberanian dan loyalitas tinggi untuk membela agama Allah dan melindungi Rasulullah telah terpatri pada diri Thalhah bin Ubaidillah. Bagaimana dengan kondisi pemuda kita saat ini?  Melihat semakin kacaunya negeri ini, para remaja yang berada di bangku sekolah sibuk dengan tawuran antar sesama pelajar. Tidak ada rasa empati pada diri mereka hingga dengan beraninya menyerang, menyakiti, hingga membunuh teman-temannya atas dasar ‘kesetiaan pada suatu kelompok’. Keberanian dan loyalitas mereka berada pada jalur yang salah.  Seharusnya keberanian itu berada di jalur yang postif. Keberanian untuk menunjukkan diri dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Abi dan Ummi, disinilah peran kita sebagai orang tua untuk mengasuh dan mendidik dengan penanaman nilai-nilai kebaikan hingga menjadi suatu kebiasaan yang pada akhiranya terbentuk sebuah karakter mulia pada anak-anak kita.

Bagaimana cara menanamkan karakter berani pada anak kita?

Contoh sederhana, ketika anak ingin bermain cat air. Bagi kita orang dewasa, itu permainan yang dapat membuat baju anak akan kotor sehingga kita melarang anak untuk bermain. Padahal tahukah kita? Itu merupakan hal yang sangat menyenangkan bagi anak, ia dapat berkreasi dengan berbagai macam warna, menemukan warna-warna baru, atau hanya sekedar bermain coret-coretan. Orang tua seharusnya tidak melarang, namun diarahkan bermain di tempat yang sudah disediakan sebagai wahan coret-coretan. Kebiasaan membangun sikap berani bertindak positif pada anak hingga ank tumbuh dewasa,  terkait hal apapun, membuat anak nanti kelaknya akan menjadi orang yang berani mengekpresikan diri dengan prestasi yang dimiliki.

Bagaimana menumbuhkan sikap loyalitas pada anak?

Loyalitas atau kesetiaan biasanya muncul dari rasa cinta. Rasa cinta inilah yang akan kita tumbuhkan pada anak. Cinta pada Allah, cinta pada Rasul, cinta pada orang tua, dan cinta pada sesama makhluk, serta alam sekitar. Rasa cinta dapat tumbuh dari rasa empati. Orang tua dapat menanamkan nilai-nilai empati kepada anak dengan cara sederhana.

Ketika anak bermain dengan temannya. Kemudian temannya sedih karena tidak mempunyai mainan yang sama dengan anak kita. Kita sebagai orang tua yang menyaksikan itu, memberikan pengertian kepada anak kita,

 “adek sedih gak kalau gak punya mainan?”,

“Iyaa… tapi adek mau main juga”

“kasihan kan kalau temannya gak punya mainan?”

“iya”

“kalau begitu hal apa yang adek bisa lakukan?”, Abi dan Ummi, kita perlu mengarahkan anak untuk meminjamkan atau bermain bersama. Hal kecil seperti ini ketika orang tua membiasakan kepada anak untuk berempati hingga tumbuh rasa cinta dan loyalitas yang tinggi.

Nah, Abi dan Ummi, dari kisah Thalhah bin Ubaidillah kita mendapatkan karakter berani dan loyal pada diri beliau. Kita pun bisa menanamkan karakter tersebut pada anak kita dengan cara sederhana sesuai dengan zaman dan usia anak dan dimulai sedini mungkin. Semoga bermanfaat…




[]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar