Cara Mendidik Anak Secara Islami, Agar Anak Tidak Melawan

Cara Mendidik Anak Secara Islami, Agar Anak Tidak Melawan

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Beragam cara mendidik anak secara islami yang sudah disampaikan. Namun, Sahabat Abiummi perlu memperhatikan tahapan sesuai usia dari setiap anak. Salah satu yang cukup rawan adalah ketika anak memasuki usia prabaligh antara 9-13 tahun. Pada rentang usia itu, anak memasuki masa yang sensitif. Karena pada usia inilah anak berada pada masa transisi antara masa anak-anak menuju remaja yang penuh dengan dinamika.

Pada rentang usia prabaligh tersebut, anak punya kecenderungan sudah merasa dirinya dewasa, sehingga tidak mau lagi dianggap seperti anak kecil. Padahal, secara emosional mereka masih tergolong anak-anak. Untuk memahami emosi anak prabaligh, Sahabat Abiummi bisa membaca lagi artikel “5 Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Kecerdasan Emosi Anak”

Memahami pola emosi anak, memang menjadi awalan yang baik dalam mendidik anak secara islami. Dibutuhkan orang tua yang kreatif dan cerdas dengan hati seluas samudra dalam menghadapi anak menjelang baligh ini. Sebenarnya jika orang tua sudah menyadari sejak awal untuk menanamkan iman terlebih dahulu sebelum ilmu-ilmu lainnya, tindakan ‘melawan’ tersebut dapat diminimalisir.

Sebelum mengajari anak tentang banyak hal, baiknya pahami terlebih dahulu bagaimana cara mendidik anak secara Islami dalam menanamkan kecintaan pada Allah Ta’ala. Islam telah mempersiapkan di banyak hadist dan ayat yang dapat dijadikan panduan cara mendidik anak secara Islami. Ajarkan anak-anak seperti Luqman dalam Al Quran.

Cara mendidik anak secara islami bagi anak yang suka melawan 


Untuk mengetahui cara mendidik anak yang suka melawan, orang tua perlu tahu terlebih dahulu apa yang menjadi penyebab anak melawan. Karena, anak tidak mungkin melawan tanpa sebab.

Psikolog anak sekaligus ketua Yayasan Buah Hati Harapan Umat, Debby Qurniasasi M.Psi mengatakan ada beberapa sebab yang membuat anak melawan.

1. Merasa diabaikan
Bisa jadi kesibukan Abi Ummi baik di pekerjaan atau sibuk dengang anggota keluarga yang lain, membuat anak merasa diabaikan sehingga ia melampiaskannya dengan melawan dan membangkang.

2. Merasa tidak disayang
Ini sering terjadi pada anak menjelang remaja, bahkan pada anak remaja. Merasa tidak disayang, tidak dimengerti dan selalu dimarahi.

3. Meniru orang tua
Pertengkaran orang tua tanpa disadari ditiru oleh anak-anak. Saling hardik atau saling teriak yang dilakukan abi ummi, tentu tanpa disadari terekam dalam benak anak. Dan, akhirnya sikap tersebut suatu hari akan ditiru oleh anak ketika dia merasa tidak sejalan dengan lawan bicara atau merasa dipojokkan.

4. Bergesernya nilai-nilai komunikasi
Mewabahnya gawai membuat nilai komunikasi kini bergeser. Komunikasi tatap muka kini jarang terjadi, digantikan dengan komunikasi via gawai. Hal ini membuat anak kehilangan ikatan dengan orang tuanya.

Karena sesungguhnya komunikasi menggunakan gawai itu bersifat semu. Tidak ada gesture, intonasi dan mimik yang justru memiliki nilai penting dan membuat komunikasi lebih ‘bernyawa’. Komunikasi yang efektif dapat dijadikan alat sebagai salah satu cara mendidik anak secara islami.

Setelah mengetahui penyebabnya, berikut cara atau tips mengatasi anak yang suka melawan.


1. Agar tak suka melawan, dekati anak melalui hobi atau kegemarannya.
Kenali hobi ataupun kegemaran anak . Sahabat Abiummi bisa memulai dari apa yang mereka sukai itu. Bersikaplah seperti layaknya teman bermain sebayanya. Ingat, anak pada usia ini tak ingin banyak larangan dalam kehidupannya.

2. Dekati anak melalui kecenderungan kecerdasannya.
Setiap anak memiliki kecerdasan sendiri. Tahukah Sahabat Abiummi, bagaimana kecerdasan Anak Anda? Kecerdasan tidak melulu soal prestasi akademis, kecerdasan emosional juga menjadi penting untuk diperhatikan.

3. Lakukan komunikasi tatap muka
Biarkan anak mengomunikasikan apa yang dia rasa. Jangan diinterupsi. Biarkan segala uneg-uneg dan kekesalannya ia muntahkan. Tidak semua bantahan anak itu merupakan bentuk ketidakpatuhan anak pada orang tuanya.

4. Diskusikan akar permasalahannya.
Adu argumen dengan anak jika masih dalam batas wajar dan masuk akal sebaiknya biarkanlah terjadi. Itu melatih kreativitas berpikir anak dan kemampuan anak dalam mengolah ide menjadi rangkaian kata-kata.

5. Buat Aturan Main
Jika akar permasalahannya sudah ditemui, maka buatlah aturan main yang baru sebagai solusi dari akar permasalahan tersebut. Biarkan anak yang membuat aturan tersebut, jadi kita tinggal menyetujui. Jika ada yang kurang pas, maka diskusikan kembali sampai anak merasa itu cukup adil untuknya.

6. Konsisten dan tegas dalam menegakkan aturan yang sudah dibuat.
Sebagai orang tua, abiummi harus konsisten terhadap aturan yang sudah ditetapkan. Jika sudah dibuat aturan untuk tidak memakai gawai di malam hari maka siapapun termasuk orang tua tidak boleh melanggar aturan. Jika kedapatan ada yang melanggar tetap harus diberi hukuman. Atau anak merengek meminta sesuatu yang melanggar aturan. Orang tua harus kuat hati untuk tidak jatuh iba. Abiummi tetap harus konsisten pada aturan yang sudah dibuat.

7. Introspeksi diri dan sama-sama berjanji akan memperbaiki semua yang menyebabkan ketidakharmonisan ini.
Biasanya orang tua selalu menyalahkan anak atas keburukan yang terjadi. Sebagai orang tua yang bijak alangkah baiknya sebelum menyalahkan orang lain berkaca terlebih dahulu dan merenungi apakah ada kesalahan yang kita lakukan. Ajak anak bicara dan buat kesepakatan yang saling menguntungkan. Ajak anak berdiskusi dan biarkan anak yang memutuskan aturan – aturan yang akan diterapkan.

8. Ajak anak untuk mengkaji sirah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassallam  atau  para sahabat.
Pergunakan waktu bermakna orang tua untuk berdiskusi tetang shirah nabi dan sahabat. Bisa dengan menonton film bersama tentang perjuangan sahabat atau membelikan buku-buku shirah untuk membuka wawasan dan pengetahuan anak.

9. Ajak anak untuk mentadaburi ayat-ayat Allah yang tepat dan sesuai dengan kejadian yang dialami.
Sebenarnya kunci mendidik anak adalah lemah lembut dan sabar. Bacalah sirah Nabi dan pahami bagaimana cara mendidik anak secara islami dalam menanamkan kecintaannya kepada Rasulullah. Sehingga kita tahu bagaimana Rasulullah mendidik anak-anaknya dan bagaimana sikap Rasulullah saat beliau menjelang remaja. Dari situ anak akan banyak mengambil hikmah dan terinspirasi untuk menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam hidupnya.




[Sumber]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar