Rasulullah Sayangi Anak-Anak


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Rasa cinta dan kasih sayang Rasulullah terhadap anak-anak tak lantas ditujukan kepada keluarganya saja. Beliau SAW begitu pengertian terhadap anak-anak. Suatu ketika Beliau SAW memimpin shalat berjamaah. Lantas di belakang ia mendengar tangisan bayi. “Aku ingin memanjangkan shalat, namun kudengar tangisan bayi. Aku pun mempersingkat shalatku karena khawatir akan kegundahan ibu dari bayi itu.”

Lihatlah, Rasulullah begitu mengerti bagaimana perasaan sang ibu terhadap anaknya. Hati Beliau SAW begitu lembut. Rasulullah adalah sosok yang gemar memanjangkan shalatnya. Lebih-lebih shalat sunah. Bahkan, kadang para sahabat tidak sanggup mengikuti ritme shalat Beliau.

Namun, karena mendengar tangisan bayi, Rasulullah lantas memendekkan shalatnya. Jelas tangisan bayi bukan masalah sepele sehingga bisa mengubah pendirian Rasulullah. Dalam tindakan Rasulullah bisa kita temukan jejak-jejak kasih sayang kepada anak-anak.

Suatu ketika Beliau memanjangkan sujudnya karena cucunya naik ke punggung beliau. Beliau shalat sembari menggendong cucunya. Beliau sering membawa putranya Ibrahim dari ibu susuannya untuk diajak bermain. Anak-anak hidup dan tumbuh dengan penuh kasing sayang di samping Rasulullah. Ali bin Abi Thalib dan Anas bin Malik ikut bersama Rasulullah semenjak kecil. Lihatlah apa yang terjadi kemudian dengan dua sahabat utama itu.

Anak-anak adalah warisan berharga bagi tumbuh kembangnya Islam. Anak-anak bukan hanya makhluk kecil lemah yang rewel dan suka merajuk. Islam yang tumbuh menyebar ke antero dunia seiring dengan penanaman Islam yang baik kepada mereka.

Anak juga investasi, namun tak seperti halnya emas dan permata. Siapa pun yang memiliki anak saleh yang terus mendoakan orang tuanya, orang tuanya akan terus mendapatkan pahala jariyah. Meskipun, ia sudah di alam kubur.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan kedua orang tuanya.” (HR Muslim).

Permata kecil nan menggemaskan ini harus dijaga dengan ruh Islam. Supaya ia tetap menjadi permata yang lebih bersinar di masa mendatang. Bukan ditelantarkan bahkan disakiti. Perasaannya masih halus. Maka sentuhlah ia dengan kelembutan, baik kata-kata maupun perbuatan.




[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar