Begini Cara Orang Tua Tangani Anak 'Defensive'


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Setiap orang memiliki fase defensive, apalagi anak-anak. Orang tua dianggap tidak boleh ikut bersikap defensive pada anak yang defensive, karena hal itu bukan cara yang tepat untuk menanganinya.

Defensive merupakan suatu sikap untuk bertahan. Sikap ini selalu dijadikan tameng untuk orang-orang yang memiliki sikap ini, terlebih pada anak. Mereka kerap mengandalkan fase ini untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Sorang Psikolog Anak dan Keluarga, Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Psi memaparkan setiap anak pasti memiliki fase tersebut. Sikap defensive yang ditujukan orang tua, menunjukkan orang tua tidak ingin mendengarkan cerita anak. Penting sekali untuk orang tua mempunyai mindset yang tidak langsung mengeluarkan asumsi. Ketika anak sedang menunjukkan sikap defensivenya, orang tua harus menunggu sikap itu hilang, baru kemudian orang tua mengajukan pertanyaan.

"Misalnya orang tua mengajukan pertanyaan apakah anaknya yakin dengan jawabannya," katanya saat ditemui Republika Online belum lama ini di Jakarta.

Orang tua harus betul-betul meyakinkan anaknya, mereka ingin mendengarkan ceritanya. Mereka harus menunjukkan sikap terbuka dan keinginan untuk mendengarkan. Mereka juga harus menciptakan suasana yang menyenangkan. Dengan begitu, anak akan mengeluarkan ceritanya dan menguatkan ikatan antara anak dan orang tua.

Psikolog yang biasa dipanggil Mbak Nina ini juga menambahkan orang tua jangan berharap anak akan dekat dengan sendirinya, ketika anak sedang dalam sikap defensive, orang tua hanya berperan untuk mengerti mereka dan mendekati mereka secara perlahan-lahan.

"Kalau kita dekat, maka seterusnya anak akan dekat dengan kita," kata Mbak Nina sambil bersenda gurau.




[republika.co.id]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar