Dampak Obesitas Anak Terhadap Kehidupan Sosialnya


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Anak cabi terlihat lucu dan menggemaskan, tapi hal ini bukanlah prestasi yang harus dibanggakan orangtua. Sadarkah Anda bahwa anak yang overweight atau obesitas sangat berbahaya bagi kesehatan anak dalam jangka panjang. Bukan hanya berdampak buruk pada kesehatan, anak juga akan merasakan dampak psikososial dalam hal penerimaan sosial.

Konsultan Psikolog Anak, Aurora Lumbantoruan M.Psi mengatakan bahwa kegemukan berdampak pada masalah emosi dan perilaku. Sebagai contoh, obesitas memiliki stigma atau stereotip yang cenderung negatif.

“Dari sudut pandang anak-anak misalnya, apakah anak gemuk nyaman diajak bermain oleh teman-temannya? Untuk permainan fisik yang kompetitif umumnya anak obesitas tidak dapat bergerak aktif atau lamban. Hal ini secara tidak langsung berdampak pada harga diri dan kepercayaan diri rendah,” jelas Aurora pada media workshop yang diselenggarakan Forum Ngobras di Riung Sunda Cikini, Jakarta, Senin (20/11). Remaja dan anak perempuan kata Aurora lebih terkena dampak sosial ini daripada remaja laki-laki yang gemuk.

Menurut dr. Klara Yuliarti SpA(K), staf pengajar dari FKUI, pencegahan dibagi menjadi pencegahan primer, sekunder dan tersier. Pencegahan primer dilakukan pada anak yang belum mengalami kegemukan, dengan cara menerapkan kebiassan makan sehat dan aktivitas sehat. Ada semacam Food rules, yang harus dipatuhi yaitu mematuhi jadwal makan anak, hanya saat jam makan.

“Anak obesitas umumnya disebabkan berlebihan minum susu atau kebanyakan makan. Makan sebaiknya tidak boleh lebih dari 30 menit, dan tidak ada makanan lain di antara waktu makan kecuali buah,” terang dr. Klara.

Menurut ia, penerapan nutrisi seimbang lebih diutamakan dan tidak ada teori diet apappun untuk anak. Teori seimbang terdiri dari karbohidrat 50-60%, protein 15-20%, dan lemak <30%. “Minuman untuk anak hanya air putih atau susu. Tidak boleh minuman kemasan dengan kandungan gula tinggi,” tegas Klara.

Untuk anak yang sudah terlanjur obesitas, perlu dilakukan pencegahan agar tidak terjadi komplikasi. Caranya dengan memantau BMI secara rutin, dan mendeteksi deposit lemak sejak dini. Deposit lemak sejak dini sebelum usia 6 tahun berkaitan dengan obesitas saat dewasa.

Salah satu langkah penting dalam mencegah obesitas adalah mengurangi gula. WHO merekomendasikan asupan gula bebas pada anak maupun dewasa, kurang dari 10% total asupan kalori dalam sehari. Yang dimaksud gula bebas adalah monosakarida dan disakarida yang ditambahkan ke makanan dan minuman olahan, termasuk gula alami pada madu, sirup, jus buah, dan buah-buahan kaya kalori.

Konsumsi gula, dijelaskan Aurora ada hubungannya dengan faktor pendidikan dan sosial ekonomi pada keluarga. “Kurang pengetahuan tentang makanan sehat menyebabkan orangtua cenderung membeli makanan tinggi lemak dan murah,” jelas Aurora. Tidak semua anak berisiko obesitas. Anak yang overweight cenderung memiliki orangtua yang overweight.




[majalahkartini.co.id]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar