Anak Perlu Mendengar 5 Kalimat Ajaib Ini


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Mengapa ajaib? Kalimat-kalimat ini singkat dan sederhana namun efek psikologi bagi anak bagaikan siraman hujan di tanah tandus nan gersang. Kalimat yang menyegarkan, menumbuhkan, menenteramkan jiwa anak.

Bagi anak usia 3–6 tahun saat keterampilan bahasa meningkat pesat, mendengarkan ungkapan sederhana yang bermakna akan menuntaskan tugas perkembangan konsep diri. Harga diri positif (positive self-esteem) anak siapa lagi yang merawat kalau bukan orang tuanya?

Berikut ini lima kalimat yang efektif untuk menuntaskan tugas perkembangan konsep diri anak. Terjalin timbal balik rasa mencintai antara kita dan anak. Pola asuh menjadi lebih manusiawi dan memanusiakan anak. Dengan sepenuh hati kita ungkapan kata berikut ini kepada anak:


1. "Aku mencintaimu, Nak."

Saya pernah menyampaikan bahwa anak selalu ingin dekat dengan orang tuanya. Permohonan yang kadang tidak terucap begitu saja dari bibir anak. Meski demikian, naluri sebagai orang tua akan menyadari hal itu. Mengekspresikan kebutuhan anak untuk merasa selalu dekat dengan kita adalah membisikkan kalimat, "Ibu mencintaimu, Nak."

Kita mampu memenuhi apapun kebutuhan anak. Namun, kebutuhan cinta dan anak merasa dicintai, memerlukan totalitas dari orang tua. Ungkapan ini bukan sekedar ekspresi bahasa, ia hadir dan dirasakan anak dalam pola asuh yang membahagiakan. Atmosfer keluarga menjadi segar, sehat, dan menumbuhkan. Anak yang merasa dicintai merasa dirinya berharga. Perasaan ini mendorong mereka berani menaklukkan tantangan, siap mengemban tanggung jawab, rela mencintai sesama.


2.  "Alhamdulillah. Ibu bangga kepadamu, Nak."

Di tengah tekanan tuntutan agar anak memenangkan olimpiade sains, tampil memukau di sebuah pertunjukan, meraih peringkat satu di kelasnya, atau sejumlah daftar kehebatan lainnya yang wajib diraih – mengungkapkan kebanggaan kepada anak bukan pekerjaan ringan.

Semoga ini tidak terjadi, orang tua yang dijangkiti sindrom "kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak." Gejala perilaku orang tua yang rajin mendaftar kekurangan anak. Seolah tiada kebaikan dan potensi sedikitpun dimiliki anak.

Maka, "Ibu bangga kepadamu, Nak," tidak selalu bergantung pada prestasi besar. Mari membuka mata. Bagi saya anak usia tiga tahun punya inisiatif belajar melipat sarung dengan rapi sungguh anak hebat. "Alhamdulillah. Ibu bangga kepadamu, Nak."


3. "Saya salah. Saya minta maaf."

Orang tua mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada anak? Ya, ini soal kebesaran dan kelapangan hati bagaimana menyadari bahwa kita adalah manusia yang memiliki kemungkinan benar dan salah. Kita bukan Nabi yang ma’shum. Kita hanya perlu jujur dan terbuka kepada diri sendiri.

Anak-anak belajar dari orang tuanya tidak ada manusia yang sempurna. Hal ini akan berpengaruh terhadap konsep diri anak bahwa kesalahan tidak selalu menjadi petaka selama kita terus memperbaiki diri. Tidak ada yang dirugikan oleh permintaan maaf kita kepada anak, yang mendasar adalah anak belajar meminta maaf dengan cara kita meminta maaf kesalahan kita kepadanya.


4. "Saya memaafkanmu."

Ya, memaafkan bukan menghukum. Anak berbuat salah bukanlah kiamat. Proses belajar dan menemukan diri akan berjumpa dengan kesalahan-kesalahan. Toh anak juga bukan makhluk serba sempurna. Mereka memiliki fitrah untuk berbuat salah. Memaafkan kesalahannya justru membuka pintu bagi tahap perkembangan yang dibutuhkan anak.

Mencintai anak bukan dengan menerima dan memuji kebaikannya saja. Menerima kekurangan dan memaafkan kesalahan anak menunjukkan bukti cinta bahwa kita menyayanginya sebagai manusia. Maka, di telinganya bisikkan, "Nak, saya memaafkanmu."


5. "Saya mendengarkanmu." 

Kemauan mendengarkan menjadi sangat penting agar kita memahami apa yang mereka katakan dan ada apa dibalik perkataannya. Dengan mendengarkan secara aktif dan empatik kita belajar memahami anak. Akan terjalin hubungan batin yang lebih dekat.

Antara kita dan anak tidak ada kesalahpahaman, karena kita bukan hanya mendengar pendapat kita sendiri melainkan menyimak apa yang disampaikan anak. Informasi menjadi seimbang. Secara sadar kita mengukur batas kesabaran dan ketelatenan mendengarkan pendapat yang sangat mungkin bertentangan dengan pendapat kita sendiri. Dengan mendengarkan anak kita meluaskan sikap bijaksana. Dan anakpun menerima perlakuan yang mengempati dirinya. "Ceritakan pada ayah. Saya akan mendengarkannya." Pintu dialog pun terbuka. Lalu biarkan anak bercerita sepuasnya, dan kita sabar menyimaknya.




[ummi-online.com]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar