Mendidik Anak Hiperaktif


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Orangtua dengan anak yang memiliki energi cukup banyak dan terlihat sangat aktif secara fisik terkadang merasa khawatir mengenai tumbuh kembang anaknya. Tak sedikit dari mereka yang mencurigai anaknya termasuk dalam kategori anak hiperaktif/ADHD (Attention Deficit and Hyperactivity Disorder). Untuk mengetahui hal tersebut, perlu pemeriksaan secara menyeluruh oleh Dokter Tumbuh Kembang Anak atau Psikolog Anak. Menurut Professor Nash dan Leventhal (2011), seorang anak dapat didiagnosa memiliki kondisi ADHD setidaknya ketika anak berusia 3 tahun. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan medis, wawancara klinis, skala penilaian yang diberikan pada orangtua dan guru, serta observasi tingkah laku (Mangunsong, 2011).

Perlu diingat bahwa rentang atensi anak itu berbeda setiap usianya, bahkan pada anak usia 1 tahun, rentang atensinya hanya sekitar 1 menit ketika bermain dengan satu mainan. Di usia yang lebih tinggi, rentang atensinya akan bertambah sekitar 1-3 menit per tahunnya. Atensi ini adalah kemampuan yang perlu dilatih dan akan berkembang sesuai usia anak. Jadi sebaiknya orangtua jangan buru-buru melabel anak batita-nya mengalami hiperaktif ya!

Kondisi ADHD sendiri, menurut penelitian, disebabkan oleh adanya gangguan fungsi neurologikal yang dipengaruhi oleh faktor bawaan lahir. Sedangkan hal lain seperti seringnya anak menggunakan gadget, menonton TV, ataupun pola asuh, bukanlah faktor penyebab utama. Namun, hal tersebut dapat menjadi faktor yang meningkatkan resiko anak mengalami ADHD (Nash & Leventhal, 2011).

Setelah mengetahui mengenai kondisi anaknya yang mengalami ADHD, orangtua kemungkinan merasa terpukul, bingung, dan takut di awalnya. Namun, hal tersebut tidak perlu untuk ditutupi dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Sebagai orangtua, tentunya kita selalu menginginkan kondisi terbaik untuk anak. Apa saja yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak dengan ADHD untuk dapat beradaptasi dengan baik di lingkungannya? Beberapa tips ini dapat orangtua terapkan di rumah:


Menerima dengan sepenuh hati

Menerima kondisi alami anak dengan segala kelebihan dan kekurangannya menjadi sebuah tahap yang sangat penting bagi perkembangan anak selanjutnya. Anak dapat merasakan rasa optimis (atau pesimis) orangtua ketika mereka menerima kondisi anaknya dan yakin bahwa mereka dapat melakukan yang terbaik untuk masa depan keluarganya. Dengan penerimaan dalam diri, keluarga pun menjadi lebih terbuka terhadap informasi baru untuk mendukung perkembangan anak.


Buatlah peraturan yang dapat dipahami dan dijalani oleh anak

Anak dengan ADHD secara umum memiliki kekurangan dan fungsi eksekutif dalam otaknya. Dengan kata lain ia kesulitan dalam berpikir dan merencanakan, mengatur, mengontrol keinginan, dan menyelesaikan tugas. Oleh karena itu, sebagai orangtua kita perlu mengambil alih sementara fungsi eksekutif otak tadi dengan memberikan bimbingan ekstra hingga akhirnya secara perlahan anak dapat mengembangkan kemampuannya sedikit demi sedikit.

Dalam membantu anak mengembangkan kemampuan eksekutifnya, orangtua dapat membuat peraturan dan memberikan berbagai instruksi untuk diikuti oleh anak, beberapa hal di bawah ini dapat membantu anak untuk memahami dan menjalankan instruksi yang diberikan orangtua:

  1. Dalam memberikan instruksi lisan, pastikan instruksinya singkat dan jelas.
  2. Sebut nama anak atau sentuh bahunya untuk membantu anak tetap memiliki kontak mata ketika orangtua berbicara dengan anak.
  3. Minta anak mengulang instruksi yang diberikan untuk memastikan bahwa ia menangkap betul informasi pentingnya.
  4. Berikan alat bantu berupa cue card atau gambar yang dapat dilihat oleh anak.
  5. Untuk anak yang lebih besar dapat juga diberikan secara tertulis dan pastikan untuk memberikan warna berbeda (atau di-bold) untuk kata-kata pentingnya.
  6. Hargai dan berikan penghargaan secara langsung atas perilaku yang diharapkan muncul. Jangan menghukum anak untuk hal yang kita tahu bahwa ia tidak (belum) bisa mengontrolnya. Sebagai gantinya, orangtua dapat menjelaskan pada anak bahwa akan ada konsekuensi yang muncul apabila ia melakukan hal yang tidak diharapkan. Apabila ia melakukan hal yang tidak diharapkan tersebut, biarlah anak menerima konsekuensi yang telah ia ketahui tersebut.



Kerjasama

Dalam pengasuhan anak dengan ADHD, orangtua sangat perlu untuk bekerja sama. Kerjasama tersebut meliputi ayah dengan ibu, ataupun dengan orang lain yang berkaitan dengan anak, misalnya pengasuh, kakek-nenek, serta guru di sekolah. Kerjasama ini menjadi sangat penting karena dalam mengasuh anak dengan ADHD, orangtua membutuhkan energi yang cukup besar untuk mengakomodasi kebutuhan anak. Selain itu, apabila anak sudah mulai sekolah, pihak sekolah perlu untuk tahu kondisi anak yang sebenarnya sehingga para guru dapat memberikan penanganan yang tepat untuk membantu berjalannya proses belajar mengajar di sekolah.




[bebeclub.co.id]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar