Ketika Kata Maaf Sulit Terucap dari Orangtua


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Ketika seseorang melakukan kesalahan sejatinya seseorang tersebut akan meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Kesalahan dapat terjadi kepada siapa saja tanpa mengenal batasan usia. Seorang anak dapat melakukan kesalahan dan meminta maaf kepada orangtua. Tetapi bagaimana jika sebaliknya?

Ketika orangtua melakukan suatu kesalahan, maka tentulah orangtua tersebut juga meminta maaf kepada sang anak atas kesalahan yang dilakukan. Hal ini dimaksudkan agar sikap orangtua tersebut dapat menjadi contoh dan teladan kepada sang anak bahwa meminta maaf atas kesalahan yang dilakukan merupakan perbuatan mulia. Di samping itu, bagaimana jika kata permintaan maaf tersebut sulit terucap dari orangtua?

Mengingat akan hal tersebut, dewasa ini tidak sedikit dari orangtua yang merasa enggan ataupun canggun ketika meminta maaf kepada sang anak atas kesalahan yang mereka lakukan. Sebagian orangtua beralasan mengapa mereka sulit mengatkan maaf atau enggan dan canggun meminta maaf kepada sang anak karena hal tersebut akan dapat mengurangi rasa hormat sang anak kepada orangtua.

Pendapat tersebut tentu tidaklah benar, bahwasannya ketika orangtua melakukan permintaan maaf atas kesalahan yang terjadi justru sang anak akan lebih menghormati orangtuanya karena telah mengakui kesalahan dengan meminta maaf dan berusaha memperbaikinya serta tidak menghilangkan sedikit pun rasa hormat sang anak kepada orangtua. Begitupula sebaliknya, sang anak mencontoh yang dilakukan orangtuanya dan menjadikan hal tersebut sebagai panutan dan teladan. Selain itu, perbuatan tersebut juga merupakan bentuk saling menghargai antar anggota keluarga, sehingga dapat menumbuhkan rasa kasih sayang lebih kuat antara sang anak dan orangtua.

Selanjutnya, ada pula orangtua yang beralasan mereka sulit mengucapkan kata maaf dikarenakan rasa malu. Bukan hanya malu untuk meminta maaf tetapi juga karena orangtua merasa mempunyai otoritas yang lebih dibandingkan dengan sang anak.

Ketahuilah bahwa sang anak pun memiliki perasaan yang sama selayaknya orangtua. Sang anak mampu meniru atau bahkan mencontoh hal yang dilakukan oleh orangtuanya, baik dalam bersikap maupun berucap. Selain itu ketika orangtua yang sulit mengucapkan kata maaf atau meminta maaf kepada sang anak ketika melakukan kesalahan baik kecil maupun besar mempunyai dampak negatif dalam diri anak.

Berikut dampak yang dapat ditimbulkan akan hal tersebut.


Tumbuh persfektif atau pendapat negatif sang anak mengenai permintaan maaf

Sang anak akan berpendapat bahwa meminta maaf berarti ketika ia telah melakukan kesalahan besar. Serta kata maaf atau permintaan maaf hanya akan terucap ketika ada kesalahan besar, dan kesalahan kecil tidak membutuhkan kata maaf atau permintaan maaf.


Tumbuhnya rasa gengsi atau malu

Adanya rasa malu yang melekat karena ketika meminta maaf berarti menurunkan derajat seseorang, begitupula dengan sang anak akan tumbuh rasa gengsi atau malu dalam hatinya.


Tidak sungguh-sungguh dalam meminta maaf

Ketika sang anak dipaksa untuk melakukan permintaan maaf dan melakukannya dalam kedaan yang terpaksa membuat anak menjadi tidak bersungguh-sungguh meminta maaf atas kesalahan yang dilakukannya. Hal ini karena permintaan maaf yang dilakukan karena dipaksa, bukan karena terdorong oleh diri sang anak sendiri, yang diteladani dari orangtuanya.


Sulit percaya kepada orangtuanya sendiri ataupun orang lain

Sang anak juga dapat kehilangan kepercayaan orangtuanya atau bahkan orang lain, karena sang orangtua tidak memberikan teladan kepadanya untuk mengakui kesalahan yang dilakukan dan meminta maaf.


Krisis percaya diri

Hal ini tentu dapat terjadi karena sang anak akan merasa meragukan ataupun menyalahkan dirinya sendiri. Selain itu, sang anak juga akan merasa tidak percaya diri ketika akan mengatakan hal yang sebenarnya karena takut sang orangtua tidak mengakui kesalahan ataupun meminta maaf kepada sang anak.


Merasa tidak dihargai dan diperhatikan

Ketika orangtua sulit untuk mengucapkan kata maaf saat melakukan kesalahan dapat menyakiti perasaan sang anak sehingga membuatnya mudah merasa sedih, sensitif atau cepat tersinggung. Hal ini berujung pada sulitnya sang anak dalam mengontrol emosi dan mengendalikan dirinya.




[ummi-online.com]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar