Kecerdasan Emosi Anak Penting bagi Masa Depannya


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Menghadapi tingkah laku dan emosi si Kecil memang kerap menjadi tantangan bagi para orangtua, khususnya Ibu. Mood yang berubah-ubah serta ketidakmampuan si Kecil untuk mengendalikan dirinya di lingkungan sekitar menjadi salah satu pencetus yang membuat si Kecil sering 'berulah' dan menjadi sosok yang menjengkelkan. Namun, jika masalah kecerdasan emosi anak ini tidak ditangani dengan baik, dapat membawa dampak jangka panjang lho, Bu!

Tidak hanya IQ, para ahli mengungkap bahwa kecerdasan emosi atau Emotional Quotient (EQ) ternyata juga sangat berpengaruh dalam kesuksesan si Kecil di masa depan. Saat diwawancarai oleh tim Mother&Baby, Monica Sulistiawati, M.Psi, seorang Psikolog dari Personal Growth mengatakan, kecerdasan emosi bukan hanya dapat menentukan suasana hati si Kecil, tetapi juga meningkatkan kepekaannya terhadap emosi diri sendiri dan menentukan bagaimana si Kecil berempati juga merespon orang lain. Hal ini tentu sangat berpengaruh baginya di masa depan. “Semakin tinggi kecerdasan emosi yang dirasakan si Kecil membuatnya mampu berekspresi dan melakukan manajemen diri dengan baik, termasuk menempatkan posisi diri sendiri di lingkungan nantinya. Anak dengan kecerdasan EQ yang tinggi juga bisa lebih peka terhadap perasaan orang lain, sehingga mampu memilih respon yang tepat terhadap lingkungannya saat berinteraksi,” jelas Monica saat diwawancarai tim Mother&Baby melalui telepon.

Hal tersebut membuktikan bahwa EQ jelas berperan untuk membantu anak menjadi sosok yang percaya diri, bertanggung jawab, dan sukses di masa depan dalam menjalin hubungan interpersonal dengan orang lain. Karakter-karakter inilah yang  mempengaruhi kualitas seseorang dalam menyeimbangkan antara kehidupan pribadi dan profesional.

EQ Si Kecil ini bisa dikembangkan oleh Ibu sejak dini, dengan mengajarkannya mengelola rasa emosi dan menenangkan dirinya sendiri. Beberapa hal yang juga bisa Ibu lakukan untuk mengembangkan EQ Si Kecil adalah dengan kasih sayang yang cukup, stimulasi dan interaksi, hingga mencukupi jam tidur dan kebutuhan emosi mereka.   

“Jika kebutuhan waktu tidur Si Kecil tidak terpenuhi, ia akan mudah rewel, pola makannya berantakan, mood-nya naik turun, dan sebagainya. Jika dibiarkan terus menerus, Si Kecil akan tumbuh menjadi anak yang emosinya tidak stabil. Selain itu, orangtua juga harus mendorong Si Kecil untuk bersosialisasi agar semakin terlatih untuk berekspresi dan merespon lingkungannya, sementara anak yang cenderung lebih banyak interaksi dengan gadget akan memiliki kecerdasan emosi yang rendah, akibatnya Si Kecil akan lebih kaku dan kesulitan menempatkan dirinya di masyarakat,” tambah Monica.




[bebeclub.co.id]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar