10 Cara Mengatasi Rasa Takut pada Anak

Ilustrasi: tempo.co

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Takut adalah suatu perasaan yang wajar dirasakan oleh semua orang, baik itu orang dewasa atau anak kecil. Perasaan takut adalah reaksi dari psikologis atau kondisi mental yang merasa tidak aman atau terancam. Beberapa ahli menyatakan bahwa rasa takut adalah emosi dasar manusia, sama dengan rasa marah, sedih, bahagia, dan lainnya. Rasa takut sangat wajar dirasakan terlebih pada anak kecil yang belum banyak mengenal dunia sekitarnya sehingga merasa tidak aman atau terancam.

Pada dasarnya, rasa takut yang dirasakan bisa hilang jika berdekatan dengan keluarga atau orang yang dipercaya. Bagitu juga pada anak kecil. Kebanyakan dari rasa takut yang mereka alami bersumber dari ketidaktahuan anak mengenai segala sesuatu hal, karena itu pada umumnya akan langsung hilang apabila mereka sudah mulai terbiasa. Namun ternyata tidak semua anak mudah mengatasi rasa takutnya pada sesuatu. Apabila rasa takut itu sulit diatasi, bisa dikatakan bahwa perasaan itu sudah berlebihan dan perlu segera diambil tindakan.

Penyebab rasa takut pada anak

Rasa takut yang dialami anak tentu tidak muncul sekonyong-konyong begitu saja. Pasti ada hal yang menjadi pemicu atau penyebab mengapa anak takut pada suatu hal. Apa saja yang bisa menjadi penyebabnya, hal-hal itu adalah seperti berikut:

Kebiasaan orang tua yang suka menakuti anak dengan cerita hantu atau benda yang menyeramkan ketika anak tidak mau patuh atau mengikuti aturan. Misalnya mengancam anak akan diambil setan atau genderuwo jika tidak mau makan, tidak mau tidur, tidak menurut dan lain sebagainya.

Terlalu sering memanjakan dan tidak membiarkan anak mandiri. Orang tua juga selalu memberi tahu anak apa yang harus dilakukan tanpa memberi kesempatan anak memutuskan sendiri keinginannya. Akibatnya anak akan mengalami ketergantungan kepada orang tuanya. Anak tidak akan merasa percaya diri untuk mengambil keputusan sendiri dan tidak bisa lepas dari orang tua.

Terbiasa mendengarkan cerita mengenai hantu dan makhluk mistis lainnya yang diceritakan oleh orang tua. Sedikit banyak, cerita yang menyeramkan tentunya akan membuat anak percaya bahwa makhluk-makhluk seram tersebut memang benar-benar ada dan membuat mereka takut sendirian.

Acara televisi juga bisa membuat anak menjadi takut akan sesuatu hal. Misalnya, ikut menonton film horor ketika masih berusia sangat kecil tanpa pendampingan orang tua, sehingga pada sebagian anak akan merasa bahwa apa yang ditonton memang nyata dan mempercayai kalau mereka dapat mengalaminya dalam kehidupan nyata.

Anak memiliki pengalaman yang menakutkan baginya. Misalnya, pernah dicakar kucing, dipatuk ayam atau bebek, dipatuk burung, pernah terkunci dalam satu ruangan sendirian secara tidak sengaja, dan lain-lain. Kondisi itu akan membuat anak trauma terhadap kejadian tersebut dan menjadi takut kepada hal-hal yang mengingatkannya dengan pengalaman buruknya.

Menghilangkan rasa takut pada anak

Mungkin ada sebagian orang tua yang menganggap ketakutan anak terhadap suatu hal merupakan masalah yang sepele, dan akan hilang dengan sendirinya sejalan dengan usia anak. Mungkin pendapat itu ada benarnya, namun untuk sebagian anak ketakutan itu justru bisa makin menjadi-jadi. Agar rasa takut anak tidak berkembang menjadi hal yang lebih akut, misalnya semacam fobia, berikut beberapa cara mengatasi rasa takut pada anak yang bisa dilakukan oleh orang tua.


1. Memahami apa yang dirasakan anak

Untuk memahami apa yang dirasakan anak sehingga ia mengalami ketakutan tertentu, orang tua memang perlu mengembangkan rasa simpati dan empati kepada anak. Jangan pernah memperburuk ketakutan anak dengan meremehkan, melecehkan atau justru memarahi anak. Cobalah memahami mengapa anak merasa takut terhadap sesuatu hal, dengan demikian orang tua akan dapat memikirkan solusinya.


2. Memberi penjelasan kepada anak

Jika orang tua sudah mengetahui bagaimana dan mengapa anak takut, maka upaya untuk mengatasi rasa takut pada anak bisa dimulai dari memberi penjelasan yang logis tentang sumber ketakutan anak. Jelaskan kepada anak bahwa tidak apa-apa untuk merasa takut, namun jangan sampai rasa takutnya itu mengendalikan hidup anak dan membuat anak jadi tidak bisa melakukan apa-apa. Orang tua juga bisa menceritakan pengalaman mengenai ketakutannya sendiri dan cara mengatasinya agar anak bisa mengambil contoh dari cerita tersebut.


3. Beri nasihat yang benar

Usahakan untuk tidak memarahi atau membandingkan anak dengan orang lain ketika ia sedang merasa takut. Apalagi jika sampai membuat anak merasa bahwa dirinyalah yang paling penakut diantara semua orang. Beri penjelasan yang logis dan masuk akal mengenai ketakutan anak dan ajak ia untuk berusaha mengatasinya pelan-pelan.


4. Jangan mengejek anak

Mungkin ada yang beranggapan bahwa jika diolok atau diejek maka anak akan merasa malu dan mau berusaha mengatasi rasa takutnya sendiri. Akan tetapi cara tersebut sebenarnya tidak sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, yaitu mengatasi rasa takut pada anak. Mengejek atau mengolok anak hanya akan membuatnya merasa rendah diri dan tidak memiliki motivasi untuk melawan rasa takutnya tersebut.


5. Berikan waktu

Mengatasi rasa takut pada anak memang tidak akan bisa berhasil dalam waktu semalam saja. Orang tua harus bersabar untuk menunggu anak agar bisa mengatasi rasa takutnya tersebut. Bantu anak untuk mengatasi ketakutannya secara perlahan-lahan. Berikan waktu bagi anak untuk mengenali dan terbiasa melawan rasa takutnya hingga benar-benar bisa diatasi.


6. Sering perkenalkan anak dengan hal-hal baru

Salah satu sumber ketakutan anak adalah perasaan asing terhadap suatu hal. Karena itu, anak harus banyak terbiasa dengan hal-hal yang baru, dan merupakan tugas orang tualah untuk banyak mengenalkan anak dengan berbagai hal yang belum diketahui anak. Mengenalkan hal yang baru kepada anak akan berguna untuk membuat anak tidak mudah terkejut atau merasa asing dan mudah beradaptasi dengan berbagai situasi.


7. Bantu anak menyatakan perasaannya

Bagi anak balita, mereka terkadang belum bisa mengekspresikan ketakutan yang dirasakannya dengan benar dan jelas sehingga orang tua sulit memahaminya. Bantulah anak untuk dapat menyatakan apa yang mereka rasakan sehingga lambat laun anak akan bisa bercerita sendiri mengenai ketakutannya tersebut.


8. Beri contoh kepada anak

Terkadang anak bisa merasa takut apabila melihat orang tuanya menunjukkan ketakutan terhadap suatu hal. Misalnya, jika ayah atau ibu takut kecoa, dan selalu menampakkan reaksi berlebihan setiap melihat kecoa. Bisa saja anak akan ikut beranggapan bahwa kecoa adalah makhluk yang menakutkan dan ia juga akan ikut merasa takut. Sebaliknya, jika orang tua menunjukkan reaksi yang biasa saja walaupun takut kepada kecoa, anak akan belajar bahwa mengatasi rasa takut itu tidak harus disikapi dengan berlebihan.


9. Bangun rasa percaya diri anak

Dalam beberapa situasi ketakutan yang timbul dalam diri anak, merupakan reaksi ketidakberdayaan anak. Atau anak takut untuk mencoba/memulai suatu kegiatan. Biasanya anak yang mengalami hal ini, salah satu penyebabnya adalah faktor orang tua yang terlalu proteksi terhadap anak. Sehingga anak tidak diberi kesempatan untuk belajar dan ketika saatnya anak harus menghadapi hal/situasi tersebut, anak menjadi takut. Untuk itu orang tua harus dapat menumbuhkan semangat dan kepercayaan dalam diri anak, bahwa ia mampu atau bisa menghadapi rasa takutnya. Selain itu bangunlah pikiran positif dalam diri anak agar anak tidak selalu berpikir dirinya tidak mampu/tidak bisa.


10. Bantuan Ahli

Jika dalam kondisi ketakutan anak yang begitu mengkhawatirkan serta orang tua tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasinya, sebaiknya orang tua berkonsultasi dengan ahli untuk mempelajari dan mengatasi ketakutan/trauma yang dialami oleh anak.




[dokteranak.org]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar