Pola Asuh Anak Islami


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Pola asuh secara islami yaitu adalah suatu kesatuan yang utuh dari sikap dan perlakuan orangtua kepada anak sejak masih kecil dalam mendidik, membina, dan membiasakan dan membimbing anak secara optimal berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist.

Tujuan dari pengasuhan islam atau pola asuh yang bernafaskan nilai-nilai keislaman sendiri adalah terciptanya generasi muslim berkarakter tangguh yang syarat akan perilaku baik atau dalam istilah islam yaitu akhlaq mahmudah.

Apabila kita membina, membiasakan dan membimbing yang semuanya itu merupakan sebuah kesatuan utuh baik secara sikap dan perlakuan cermati setidaknya ada empat kata kunci yang bisa dijadikan patokan dalam hal pengasuhan islam yaitu mendidik, terhadap anak sejak masih kecil hingga dewasa. Menerapkan pola asuh berarti mendidik seorang anak, pendidikan dalam wacana keislaman lebih populer dengan istilah menelusuri makna tarbiyah melalui kata rabb (Tuhan) dalam surat al-Fatihah, karena keduanya memiliki akar huruf yang sama.

Salah satu tanggung jawab yang harus diberikan orangtua atas anak yang diamanahkan kepada mereka adalah pola asuh yang tepat untuk membantu pembentukan karakter anak. Hal ini sesuai dengan konsep islam yang tercantum dalam Hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah R.A "Rosululloh SAW bersabda, "Barang siapa tidak mengasihi (anaknya), maka dia tidak akan dikasihi (anaknya)."

Dalam konteks yang lebih luas, Hadits tersebut dapat diartikan bahwa apabila kita menginginkan anak yang berkarakter pengasih, maka harus dimulai dari orangtua yang selalu mengasihi dan menyayangi anak-anaknya.

Disini saya akan menjelaskan bagaimana mendidik atau memberi pola asuh atau biasa disebut dengan parenting yang tepat untuk membantu pembentukan karakter anak. Dalam islam terdapat sebuah metode parenting yang tepat utuk mendidik anak berdasarkan Al Qur'an dan Al Hadist yaitu mendidik anak ala Ali bin Abi Thalib RA. Ali bin Abi Thalib RA adalah salah satu sahabat nabi (khulafaur rasyidin), sepupu, sekaligus menantu Rasulullah SAW (suami dari anak beliau Fatimah Az-Zahra).

Ungkapan yang terkenal dari Ali bin Abi Thalib, RA adalah, "Didiklah anakmu sesuai dengan jamannya, Karena mereka hidup bukan di jamanmu."

Dari ungkapan ini saja ternyata dalam Islam juga diajarkan untuk mendidik anak sesuai zamanya, tidak otoriter sesuai yang dianut oleh orang tua zaman dahulu, perlu penyesuaian di sana-sini.

Kemudian apa saja prinsip dari parenting Ali bin Abi Thalib ini?

Ada 3 pengelompokan dalam memperlakukan anak, yang disesuaikan dengan usia. Menurut Ali bin Abi Thalib RA, pengelompokkan itu terdiri dari:

  1. Kelompok 7 tahun pertama (usia 0-7 tahun), perlakukan anak sebagai raja.
  2. Kelompok 7 tahun kedua (usia 8-14 tahun), perlakukan anak sebagai tawanan.
  3. Kelompok 7 tahun ketiga (usia 15-21 tahun), perlakukan anak sebagai sahabat.


Anak sebagai Raja (Usia 0-7 Tahun)

Melayani anak di bawah usia 7 tahun dengan sepenuh hati dan tulus adalah hal terbaik yang dapat kita lakukan. Banyak hal kecil yang setiap hari kita lakukan ternyata akan berdampak sangat baik bagi perkembangan prilakunya, misalnya:

  • Bila kita langsung menjawab dan menghampirinya saat ia memanggil kita- bahkan ketika kita sedang sibuk dengan pekerjaan kita – maka ia akan langsung menjawab dan menghampiri kita ketika kita memanggilnya.
  • Saat kita tanpa bosan mengusap punggungnya hingga ia tidur, maka kelak kita akan terharu ketika ia memijat atau membelai pngung kita saat kita kelelahan atau sakit.
  • Saat kita berusaha keras menahan emosi di saat ia melakukan kesalahan sebesar apapun, lihatlah dikemudian hari ia akan mampu menahan emosinya ketika adik/temannya melakukan kesalahan padanya.


Maka ketika kita selalu berusaha sekuat tenaga untuk melayani dan menyenangkan hati anak yang belum berusia tujuh tahun, insya Allah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, perhatian dan bertanggung jawab. Karena jika kita mencintai dan memperlakukannya sebagai raja, maka ia juga akan mencintai dan memperlakukan kita sebagai raja dan ratunya.

Maka intinya adalah pada tahap ini anak belajar dari sikap kita kepadanya, jika kita lembut kepadanya maka ia akan tumbuh menjadi orang yang lembut. Lembut disini bukan berarti kita memanjakan tapi kita tetap tegas mengenai hal-hal yang baik dan tidak untuknya.

Anak sebagai Tawanan (Usia 8-14 Tahun)

Kenapa sebagai tawanan? Karena kedudukan tawanan dalam Islam sangatlah terhormat, ia mendapatkan haknya secara proporsional namun juga dikenakan berbagai larangan serta kewajiban.

Inilah dimana saatnya anak mengetahui hak dan kewajibannya, tentang akidah dan hukum agama baik yang diwajibkan maupun yang dilarang. Hal-hal tersebut di antaranya mengerjakan sholat 5 waktu, memakai pakaian yang bersih, rapi, dan menutup aurat, menjaga pergaulan dengan lawan jenis, membiasakan membaca Al Qur'an, serta membantu pekerjaan rumah yang sesuai dengan kemampuan anak seusia ini. Pada tahap ini anak juga mulai menerapkan kedisiplinan sehari-hari dengan system reward dan punishment. Hal ini penting dilakukan di tahap ini karena anak sudah mulai mengerti arti tanggung jawab dan konsekuensi tentang suatu hal.

Anak sebagai Sahabat (Usia 15-21 Tahun)

Usia 15 tahun adalah usia umum saat anak menginjak akil baligh. Sebagai orang tua kita sebaiknya memposisikan diri sebagai sahabat dan memberi contoh atau teladan yang baik seperti yang diajarkan oleh Ali bin Abi Thalib Ra.

  • Berbicara dari hati ke hati Inilah saat yang tepat untuk berbicara dari hati ke hati dengannya, menjelaskan bahwa ia sudah remaja dan beranjak dewasa.
    Perlu dikomunikasikan bahwa selain mengalami perubahan fisik, Ia juga akan mengalami perubahan secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan, sehingga sangat mungkin akan ada masalah yang harus dihadapinya. Paling penting bagi kita para orang tua adalah kita harus dapat membangun kesadaran pada anak-anak kita bahwa pada usia setelah akil baliqh ini, ia sudah memiliki buku amalannya sendiri yang kelak akan ditayangkan dan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah SWT.
  • Memberi ruang lebih Setelah memasuki usia akil baliqh, anak perlu memiliki ruang agar tidak merasa terkekang, namun tetap dalam pengawasan kita.Controlling atau pengawasan tetap harus dilakukan tanpa bersikap otoriter dan tentu saja diiringi dengan berdoa untuk kebaikan dan keselamatannya. Dengan demikian anak akan merasa penting, dihormati, dicintai, dihargai dan disayangi. Selanjutnya, Ia akan merasa percaya diri dan mempunyai kepribadian yang kuat untuk selalu cenderung pada kebaikan dan menjauhi perilaku buruk.
  • Mempercayakan tanggung jawab yang lebih berat. Waktu usia 15- 21 tahun ini penting bagi kita untuk memberinya tanggung jawab yang lebih berat dan lebih besar, dengan begini kelak anak- anak kita dapat menjadi pribadi yang cekatan, mandiri, bertanggung jawab dan dapat diandalkan.Contoh pemberian tanggung jawab pada usia ini adalah seperti memintanya membimbing adik- adiknya, mengerjakan beberapa pekejaan yang biasa dikerjakan oleh orang dewasa, atau mengatur jadwal kegiatan dan mengelola kuangannya sendiri
  • Membekali anak dengan keahlian hidup.Rasulullah bersabda, "Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang dan memanah." (Riwayat sahih Ima Bukhari dan Imam Muslim) Secara harfiah, olah raga berkuda, berenang dan memanah adalah olah raga yang sangat baik untuk kebugaran tubuh. Sebagian menafsirkan bahwa berkuda dapat pula diartikan mampu mengendarai kendaraan (baik kendaraan darat, laut, udara). Berenang dapat disamakan dengan ketahanan dan kemampuan fisik yang diperlukan agar menjadi muslim yang kuat. Sedangkan memanah dapat pula diartikan sebagai melatih konsentrasi dan fokus pada tujuan.


Mengenai tiga jenis olahraga ini, di era modern, sebagian pakar memperluas tafsiran hadist di atas sebagai berikut.

  • Berkuda merupakan skill of life, memberi keterampilan atau keahlian sebagai bekal hidup agar memiliki rasa percaa diri, jiwa kepemimpinan dan pengendalian diri yang baik.
  • Berenang merupakan survival of life, mendidik anak agar selalu bersemangat, tidak mudah menyerah dan tegar dalam menghadapi masalah.
  • Memanah merupakan thinking of life, mengajarkan anak untuk membangun kemandirian berpikir, merencanakan masa depan dan menentukan target hidupnya.


Dengan menjadikannya seperti sahabat, anak akan merasa nyaman berbagi tentang hal apapun, ia tidak akan merasa takut akan dihakimi tentang permasalahannya karena ia memiliki tempat terbaik untuk berdiskusi dalam segala hal. Tentunya kita tidak ingin anak justru salah mendapatkan pengertian tentang hal-hal tertentu, bukan?




[sumber]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar