Curhat Dong, Mah


KB TKIT HARAPAN BUNDA – "Aku nggak mau cerita sama Mama lagi. Soalnya aku pernah cerita, waktu aku dikatain 'gajah' sama teman-teman. Mama malah ketawa sambil bilang, 'Kamu sih badannya gede!'"

"Males, Kak, cerita sama ortu. Ujung-ujungnya pasti dimarahin!"

"Sempat kesal juga sih sama Mami. Masa, pas cerita kalau aku gagal dapet beasiswa, Mami malah ketawa terus bilang, 'Emang enak?!'"

"Ah, ngapain curhat ke Papa. Yang ada aku diceramahin, jadinya Papa yang curhat panjang lebar masa mudanya. Apa hubungannya sama aku?"

Begitulah jawaban yang sering saya dengar ketika bertanya pada anak-anak apakah masalah yang mereka alami pernah mereka ceritakan ke orang tua. Ternyata mereka enggan bercerita karena respon yang diterima tidak mengenakkan. Pantaskah kita sebagai orang tua mengeluh, kenapa ya anak tidak mau cerita?

Sebagai orang tua, pernahkah kita membalik posisi? Seandainya kita menjadi anak yang curhat lantas direspon dengan jawaban seperti di atas? Lagi sedih dan berharap dukungan, malah ditertawakan. Lagi kesal dan ingin diterima perasaannya, justru semakin disalahkan.

Lantas apa yang kita rasakan?

Mungkin kita pun terlalu sering menerima respon semacam itu ketika curhat. Sehingga akhirnya respon tidak empati ini menjadi skema yang otomatis keluar saat anak atau orang lain curhat pada kita.

Terkesan sepele, tapi jika respon ini berulang tiap kali anak curhat, tentu bisa ditebak bukan episode selanjutnya?

Anak akan mulai enggan untuk curhat. Lalu mulai mencari sosok lain yang bisa menerima curhatannya. Lama-lama, tempat curhat ini menjadi kepercayaannya. Mengambil kaveling orang tua di hatinya. Kaveling tempat meminta fatwa, rujukan menyelesaikan masalah, dan kedekatan psikologis.

Sekarang semua itu bukan wilayah orang tua lagi. Sudah ganti menjadi wilayah sang pendengar yang baik ketika anak curhat. Alhamdulillah kalau penghuni kaveling itu baik, kalau tidak?

Maka jangan heran kalau orang lain lebih didengarkan daripada orang tua. Sebab orang lain itu lebih mau mendengarkan daripada orang tua. Ini berlaku juga dalam kehidupan pernikahan. Jika suami istri bisa saling mendengarkan kala salah satu sedang curhat, pasti rumah tangga makin kompak.

Sebagian kita mungkin memang sulit menjadi pendengar curhat yang baik. Bisa karena memang tidak betah berlama lama mendengarkan, tidak tahu cara mendengar aktif, atau sejatinya memang terlalu sibuk dengan diri sendiri sehingga tidak sempat fokus pada perasaan sang buah hati.

Yang terakhir ini agak seram namun terjadi. Ada sekian orang tua yang belum berdamai dengan diri sendiri. Setiap kali anak bercerita, yang dipikirkan adalah cara gampang agar curhatan si anak tidak menambah masalah bagi diri orang tua.

Jadi dicarilah jawaban jawaban singkat dan tanpa arti, atau justru berisi instruksi panjang lebar tanpa henti. Tidak peduli apa yang dirasakan anak sebenarnya. Dan memang tidak dirasa penting oleh sang orang tua.

Orang tua model begini, semoga diberi hidayah oleh Allah. Supaya sadar anak tidak pernah minta dilahirkan. Semoga kelak dapat inspirasi untuk menyelesaikan masalah diri sendiri agar mampu membersamai buah hati dengan optimal.

Kembali ke masalah curhat anak. Kenyamanan untuk curhat ke orang tua memang merupakan akumulasi pengalaman anak sejak usia dini. Semakin terbuka orang tua terhadap lontaran ide, perasaan, respon apapun dari anak, semakin terbangun trust atau kepercayaan dari anak pada orang tua.

Karena itu, saya sendiri berusaha sekali untuk tidak menghakimi apa yang anak lontarkan secara spontan. Apalagi jika ia perlu mengumpulkan keberanian untuk menceritakannya.

Respon marah, tak peduli, bahkan sekadar kaget, bisa langsung membuat mereka menarik diri dan enggan tampil apa adanya lagi. Lontaran sederhana ketika anak pulang sekolah dan bercerita, atau ketika ia memperlihatkan hasil karyanya; saat ia sedih, marah, kecewa karena hal yang kita anggap sepele. Jangan pernah menunjukkan ekspresi meremehkan.

Dunia kita beda dengan mereka. Apa yang kita anggap remeh, bisa menjadi sesuatu yang mahapenting buat anak.

Bukan berarti kita lebay dan selalu menyetujui apa yang ia ungkapkan. Kita hanya perlu bersabar mendengarkan. Sebelum masuk ke wilayah benar salah. Dengarkan saja dulu, tanpa memotongnya.

Sempat saya merasakan fase kesulitan menggali cerita dari si sulung. Dia seolah punya rahasia dan dengan jujur mengatakan malu kalau cerita juga takut saya marah. Dengan berbagai bujuk rayu saya coba meyakinkannya bahwa saya tidak akan marah. Saya ibu yang akan selalu melindunginya sehingga perlu tahu apa yang ia rasa.

Si sulung termasuk anak yang berpendirian dan cukup lama saya bisa membuatnya bercerita. Alhamdulillah, sampai kini saya masih berhasil meyakinkannya.

Saya terus berkaca apa yang membuat ia urung bercerita. Saya berusaha sedatar mungkin ketika si sulung sudah mempercayakan ceritanya pada saya. Nilai benar salah hati-hati sekali saya sampaikan. Setelah perasaannya saya terima dan ia lega, baru saya ajak ia berpikir bagaimana pendapatnya tentang apa yang ia ceritakan. Sikap apa yang akan memperbaiki keadaan.

Dengan strategi ini, sulung menjadikan saya sebagai rujukan utama jika merasa tidak nyaman secara emosi. Saat ia tantrum, biasanya saya yang sukses jadi pawangnya.

Begitulah. Beranjak dewasa anak akan mulai punya privasi. Saat kita tidak perlu lagi terlalu kepo dan memaksanya bercerita.

Sebelum saat itu tiba, mari menabung kepercayaan agar kelak ia tak sungkan minta pertimbangan kita sebagai orang tua, agar kelak apa yang kita tanamkan sebagai nilai dalam kehidupan, ia terima dan jadikan pegangan.




[Dari akun Facebook Yunda Fitrian dengan sedikit suntingan]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar