Mengajak Bayi dan Balita Shalat Ied

Ilustrasi: seteteshidayah.wordpress.com

KB TKIT HARAPAN BUNDA – Dalam beberapa riwayat, diceritakan bagaimana Rasulullah mempercepat sholat ketika ada bayi yang menangis. Riwayat yang lain juga menceritakan bagaimana sholat sambil menggendong bayi/balita. Karena riwayat-riwayat itu cukup jelas, maka pada awalnya tak terlintas dalam pikiran saya untuk membahas mengenai hal ini. Saya rasa para orangtua bisa merujuk pada riwayat-riwayat tersebut mengenai bagaimana teknis sholat bersama bayi/balita.

Namun, saya merasa hal ini menjadi penting untuk dibahas, ketika saya melihat banyak sekali para ibu muda kebingungan menghadapi bayi dan balitanya yang menangis saat sholat jamaah. Terutama sholat Ied di lapangan. Dan hebohnya adalah karena tangisan bayi itu "menular". Seorang balita yang anteng duduk di samping ibunya, sontak bisa ikut menangis ketika mendengar suara balita sebayanya menangis. Tak pelak konser tangisan membuat para ibu bingung, dan para bapak hilang fokus.

Sama seperti menghadapi situasi baru apa pun, maka kita sebagai orangtua perlu melakukan persiapan. Tidak "ujug-ujug" membawa atau mengenalkan pada situasi baru tanpa persiapan terlebih dahulu. Siapa pun termasuk kita yang dewasa (apalagi bayi dan balita), biasanya akan sedikit tegang dan cemas bila menghadapi situasi yang sama sekali baru.

Apa yang perlu kita persiapkan?
  • Mengenalkan situasi secara bertahap
  • Antisipasi masalah
  • Mengatasi situasi tak terduga
  • Penguatan
  • Pembiasaan


Saya uraikan semuanya sekaligus. Teknik ini juga bisa digunakan dalam situasi lain yang baru pertama kali dimasuki, misalnya, berbelanja di pasar, masuk sekolah, datang ke acara resmi/undangan, ke dokter, dan situasi baru lainnya, terutama yang memiliki aturan agak ketat.

Bayi dan balita itu berbeda pendekatannya. Bayi sampai usia 1 atau 2 tahun sepenuhnya bergantung pada orang dewasa. Maka kita yang mengikuti keinginan anak. Sementara balita mulai usia 2 tahun, sudah bisa diajak berbicara dan dijelaskan secara sederhana apa situasi yang akan dihadapi, dan perilaku apa yang diharapkan darinya.

Saat anak saya bayi, sebelum shalat saya biasanya akan bicara pada bayi saya, terlepas dari dia paham atau tidak, "Dek, Mama mau shalat dulu. Adek bobo/duduk di sini dulu ya."

Saya letakkan bayi saya di samping sajadah (dengan alas tentunya) ketika saya sholat. Diletakkan sedemikian rupa sehingga bayi bisa melihat saya yang sedang shalat. Bila sudah bisa berguling atau merangkak, maka lingkungan sekitar harus dijaga sedemikian rupa, sehingga tetap aman bagi bayi.

Bila menangis, maka saya akan menggendongnya sambil tetap shalat. Saya tidak akan membatalkan shalat saya saat bayi menangis. Bila saya membatalkannya, maka anak kita tahu, bahwa ia bisa mengganggu orangtuanya dengan tangisan dan akan menggunakan "senjata" tersebut di lain kesempatan.

Bila kita akan mengajak anak shalat berjamaah di masjid, maka lakukan pembiasaan berjamaah di rumah terlebih dahulu.

Sebelum membawa anak shalat berjamaah di masjid atau di lapangan. Maka biasanya saya akan berkata, "Dek, kita mau sholat di lapangan. Nanti banyak orang di sana, dan Mama shalat sama-sama orang lain. Adek boleh ikut shalat boleh juga duduk dekat Mama. Mama nggak akan ngomong sama adek sampai Mama selesai sholat, bilang Assalamu'alaikum ke kiri dan kanan. Kalau nanti pas Mama sholat, ada anak lain yang nangis, adek nggak usah ikut nangis. Adek tunggu saja dekat-dekat Mama ya. 

Anak yang sudah terbiasa diajak sholat di rumah, akan bisa mengantisipasi dan tahu berapa lama dia harus menunggu dibanding anak yang tidak terbiasa diajak sholat.

Untuk mengantisipasi, biasanya saya juga akan membawa mainan, susu dan makanan yang bisa dimanfaatkan saat anak menunggu saya selesai sholat.

Lakukan pembiasaan dengan tahapan, diawali:
  • shalat sunnah 2 rakaat, 
  • shalat wajib di rumah, 
  • shalat berjamaah di rumah, 
  • shalat berjamaah di masjid terutama shalat-shalat pendek, Shubuh dan Maghrib. 
  • Sehingga saat shalat di lapangan, situasinya relatif bisa tetap terkendali.


Dan selalu ingat dengan penguatan berupa pujian atas usaha anak bertahan menunggu kita shalat dari awal hingga akhir. Menangis atau pun tidak, tetap perlu kita beri pujian atas usahanya. Yang perlu diingat adalah, sedapat mungkin TIDAK membatalkan shalat saat anak menangis. Lakukan seperti yang diriwayatkan dalam beberapa hadits, gendong anak, tanpa berbicara.

Beberapa tahun terakhir, saya melihat situasi anak rewel saat shalat Ied dimanfaatkan dengan baik oleh tukang balon dan mainan anak. Daripada membelikan balon sebelum shalat Ied dan berpeluang terbang atau pecah yang membuat anak menjadi rewel, lebih baik menjadikan balon sebagai reward. Saya lebih suka anak memperoleh balon atau mainan bila shalat sudah selesai.

Baiklah, sekalipun shalat Ied sudah berakhir, tapi semoga cara ini bisa dimanfaatkan untuk shalat di rumah, di masjid dan shalat Ied di tahun-tahun yang akan datang.

Jadikan pengalaman beribadah sebagai pengalaman yang menyenangkan bagi anak.




[Dari akun Facebook Yeti Widiati]
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar