Anak dan Kejujuran


KB TKIT HARAPAN BUNDA – Pernah tidak, Bunda, secara tidak sengaja menemukan kalau anak kita sedang berbohong?

Misalnya diminta untuk sikat gigi sebelum tidur. Ngakunya sudah, tapi pas dicek kok kamar mandi lantainya kering ya? Jangan-jangan dia tidak sikat gigi. Dan pas dikonfirm besoknya, ternyata betul. Tidak dilakukan, padahal semalam bilangnya sudah.

Atau ketika anak berlarian tidak sengaja menyenggol gelas. Praaang! Gelas pecah, tapi tidak ada yang lihat. Saat kemudian kita temukan dan lalu bertanya, "Siapa yang memecahkan gelas ini ya?"

Anak menyebutkan nama orang lain sebagai pelakunya. Atau menunjuk dan menyalahkan kucing piarannya.

Gimana rasanya mengetahui anak berbohong, Bunda?

Sedih. Kesal. Marah.

Apalagi kalau kemudian perilaku bohongnya berulang. Meski sudah diingatkan, besok-besok kalau dalam keadaan terdesak, ketahuan bohong lagi.

Nah, pernah tidak coba menjeda rasa ingin ngomel karena anak bohong, dengan bertanya, kenapa sih dia bohong? Kenapa sih anak memilih mengatakan hal yang tidak benar dibanding berkata jujur?

Insting alami manusia adalah mendekatkan diri pada hal hal yang menyenangkan bagi dirinya, dan menghindar dari hal yang merugikan dirinya. Ini tertanam di diri setiap manusia. Termasuk para Bunda.

Sama seperti anak. Berbeda dengan orang dewasa yang sudah bisa melakukan penilaian moral (membedakan antara baik dan buruk), anak baru sampai tahapan membedakan yang enak dan tidak enak. Mana yang menyenangkan buat dirinya, dan mana yang tidak. Sesimpel itu.

Jadi kalau nemu anak lagi bohong, jangan langsung dilabeli dengan sebutan "tukang bohong" ya, Bunda. Mereka tidak melakukan itu untuk sengaja berbohong kok, tapi untuk menghindar dari hal yang tidak menyenangkan buat dirinya.

Apa itu?

Omelan si Bunda.

Coba diingat-ingat, seberapa "heboh" level marah Bunda saat anak melakukan kesalahan? Bisa jadi, saat anak melakukan kesalahan, kita respon dengan omelan yang pada akhirnya membuat anak tidak nyaman untuk mau mengakui kesalahannya.

Atau bahkan, saat anak mengakui kesalahan pun, kita lebih fokus sama kesalahannya ketimbang pengakuannya. Padahal mengakui kesalahan itu tidak mudah, lho.

Lantas, kalau sudah sering begitu, masih bisa diubah tidak? Bisa, insyaallah. Asalkan, tidak cuma anaknya. Tapi orang tuanya juga mesti mau berubah sama-sama.

Setidaknya ada 5 prinsip sederhana yang bisa kita terapkan di rumah untuk membantu anak berani dan nyaman berkata jujur. Tidak cuma sama orang tuanya, tetapi di manapun dia berada. 5 prinsip ini didapat dari buku "Aku Anak Jujur", salah satu seri dari paket Halo Balita.

Prinsip-prinsip ini bagus sekali buat diterapkan ke anak. Dan to make it easy, akan dielaborasikan juga dengan contoh konkrit di kehidupan sehari-hari.


1. Orang tua memberi teladan soal berkata benar dan menepati janji. 

Di poin ini, kita bahkan bicara tentang hal yang paling sederhana. Semisal tidak mengiming-iming anak dengan reward tertentu, yang ternyata tidak sungguh sungguh kita kasih di kemudian hari. Atau sekedar berkata, "Dik, lihat, ada cicak tuh!" untuk menghentikan tangisan anak, padahal cicaknya tidak ada. Jangan lagi ya, Bunda.


2. Jangan bertanya pada anak dengan nada menuduh, saat mereka terduga melakukan kesalahan.

Coba gunakan nada bertanya yang netral. Bertanya baik-baik, dan tekankan bahwa, "Bunda senang sekali lho, kalau Kakak mau berkata jujur..."


3. Berikan penghargaan pada anak saat mereka mau berkata jujur.

Ingat, penghargaan dan bukan omelan. Apresiasi dulu kejujuran anak. Ucapkan terima kasih sudah mau berkata sebenarnya, dengan pelukan. Tanyakan perasaannya, "Adik tidak nyaman ya tadi pas jatuhin gelas? Tapi adik hebat sudah mau jujur sama Bunda. Terima kasih ya, Dik..." Dengan begitu, anak akan mendapat kesan bahwa berkata benar itu mendatangkan rasa sakinah di hati.


4. Pisahkan antara perbuatan jujur dan kesalahan anak.

Meski sudah jujur, tapi bukan berarti kesalahannya tidak dievaluasi. Setelah kondisi sudah lebih tenang, ajari anak bicara baik-baik tentang kesalahan yang sudah dilakukan. Tanyakan kenapa bisa terjadi, dan ajak berpikir bersama bagaimana cara memperbaiki kesalahan yang ada.


5. Ceritakan pada anak bahwa ketidakjujuran dapat merugikan diri sendiri dan orang lain, sedangkan kejujuran akan mendatangkan kepercayaan orang lain.

Bisa lewat kisah kisah Nabi, dongeng binatang bertena kejujuran, ataupun yang lainnya. Tekankan juga, bahwa meski tidak ada orang yang melihat, tapi Allah selalu melihat.


Dari kelima prinsip di atas, kunci keberhasilan ada di orang tua. Konsisten untuk melakukan prinsip itu di semua kondisi. Jangan sampai, ketika kondisi emosi kita baik, anak tidak diomelin, sementara giliran kadar kesabaran menipis, semua kesalahan dipukul rata dengan kemarahan.

Susah? Pasti. Ribet? Iya. Tapi karena itulah, mendidik anak berhadiah surga.

Yuk, kita belajar jadi lebih baik sama sama!

"You can't teach children to behave better by making them feel worse. When children feel better, they behave better!" (Pam Leo)





Sumber: Akun Facebook Jayaning Hartami
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar