Karena Cinta Tak Bisa Dipaksakan (Mengatasi Sibling Rivalry)



KB TKIT HARAPAN BUNDA – "Kak, ini adiknya sudah lahiir. Kakak harus sayang sama adik yaa.."

"Kak, jangan berisiiik.. dieem.. adik lagi bobok. Awas ya kalau gara-gara kamu ribut terus, adik jadi bangun lagi.."

"Kak, kok adik dipukul sampe jatuh gitu sih? Kamu nakal deh. Kasian kan adik sakit tuh.."

"Mah, aku nggak suka adik. Adik kasihin orang aja sih..."

* * *

Sering mendengar kalimat semacam itu terucap, Bunda? Sering pusing karena anak-anak lebih sering ribut daripada kompak?

Mungkin mereka sedang mengalami sibling rivalry.

Sibling rivalry adalah perselisihan antar saudara kandung yang diawali dari kecemburuan sang kakak saat adiknya lahir. Perhatian orangtua yang tersedot untuk si adik membuatnya tidak suka akan kehadiran adik barunya.

Biasanya berlanjut jadi tindak pemukulan atau ingin melukai adiknya secara fisik. Bila terus dibiarkan, anak akan tumbuh dengan rasa iri antar saudara. Akan lebih sering ribut daripada kompak. Jika berseteru susah didamaikan. Tidak mudah saling mengakui kesalahan ataupun minta maaf. Bahkan bisa jadi saling dendam sampai dewasa karena kebencian yang terus dipupuk dari kecil.

Jangan remehkan sibling rivalry ya, Bunda. Karena begitu banyak kasus orang dewasa yang selalu bermasalah dengan saudara kandungnya sendiri. Mulai dari masalah remeh sehari-hari, sampai saling tuntut hingga pengadilan karena suatu masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan damai. Semua itu berawal dari sebuah kecemburuan antar saudara yang dikenal dengan sebutan sibling rivalry ini.

Saya yakin sih, pada dasarnya setiap orang tua pasti inginnya berlaku adil kepada semua anaknya.

Tapi saat ada bayi baru lahir, seringkali kita, para ibu, melakukan kesalahan ini, yang secara tidak sadar, memicu terjadinya sibling rivalry.


Kesalahan 1: Mengharuskan Kakak Mencintai Adiknya

Kita seringkali lupa bahwa 'cinta' itu tak bisa dipaksakan. Dulu jaman gadis, kita juga tidak mau kan dipaksa suruh jatuh cinta sama pemuda yang tiba-tiba nongol depan kita? Hehe...

Tapi, cinta itu bisa ditumbuhkan kok. Syaratnya, dilakukan secara suka rela, bukan dipaksa. Jadi ya tidak akan berhasil, kalau kita suruh kakak 'harus' mencintai adiknya. Semakin kita paksa, semakin sebal si kakak pada adiknya.

Yang bisa kita lakukan adalah menumbuhkan rasa cinta itu di hatinya, agar dia menyayangi si adik tanpa paksaan.

Caranya bagaimana?

Coba katakan padanya:

  • "Kak, tuh adik liatin kakak. Adik senyum. Artinya adik suka sama kakak."
  • "Kak, nih adik maunya deket-deket terus sama kakak. Artinya adik sayang sama kakak."
  • "Kak, adik ketawa-tawa terus yah kalau liat kakak ketawa. Artinya adik cinta sama kakak."

Jadi pesan yang ditangkap oleh kakak adalah, dengan adanya adik, bertambah pula orang yang suka, sayang dan cinta sama dia.

Asyik kan? Siapa sih yang tidak suka dicintai?

Ajarkan pula cara mencintai dengan lembut lewat tindakan seperti lebih sering mencium, memeluk, elus-elus rambut kakak sambil bilang: "Mama sayang kakak nih. Enak kan disayang?"

Ingat ya, Bunda, jangan karena si bayi yang lucu dan gendut, lalu bayinya yang dicium melulu. Kakaknya yang kurusan diabaikan. Kasihan, kan?


Kesalahan 2: Menuntut Pengertian Kakak

Wanita itu memang mahluk yang selalu ingin dimengerti ya, bahkan ingin dimengerti sama anak kecil.

Tidak percaya? Coba inget-inget deh, pernah ngomong begini, tidak?

  • "Kak, adik nangis. Mama nenenin dulu, kakak main sendiri dulu ya."
  • "Kak, makan sendiri ya. Mama mau mandiin adik."
  • "Kak, mandi sendiri ya. Mama lagi gendong adik."

Kita sering lupa, inginnya si kakak langsung paham dan mengerti kalau sekarang mamanya punya dua anak yang harus sama-sama diurus. Padahal berapa sih usia kakaknya? Di usia yang begitu kecil, saat sel-sel otaknya masih dalam tahap bersambungan, mana bisa dia paham konsep berbagi ibu. Mana bisa kita meminta dia mengerti. Makin kecil usianya saat adiknya lahir, makin sulit baginya untuk paham.

Jadi amat sangat wajar kalau kakaknya tidak mau berbagi ibu, karena memang kapasitas otak dan emosinya belum bisa memahaminya. Nalarnya belum sampai, Bunda.

Tahu tidak, bagimana perasaan kakak dari kalimat kita itu?

"Huh, apa-apa adik terus. Gara-gara ada adik, aku di nomor duain, nggak diurusin, nggak ditemenin. Aku sebel. Ternyata punya adik nggak enak. Aku nggak suka sama adikku!"

Itulah yang dirasakan anak pertama kita. Hanya saja, dia belum bisa ngungkapin pake kata-kata yang benar. Jadilah rasa sebelnya disalurkan dalam bentuk mengganggu adiknya, menjaili, mencubit, dan memukul sampai si adiknya menangis.

Jadi solusinya bagaimana?

Kencan berduaan dengan kakak.

Kalau dulu kencan sama bapaknya, sekarang kencan berdua saja sama kakak. Menikmati waktu berdua saja. Ini cukup efektif mengatasi sibling rivalry. Kakak akan merasakan kembali momen saat ibunya hanya miliknya seorang.

Pergi berdua bisa ke taman deket rumah, main sepuasnya. Atau kalau susah meninggalkan si kecil, bisa pergi sekeluarga ke mall. Ayahnya nemenin adik main di playground, ibunya berduaan sama kakak di counter es krim. Suapi dia, elus-elus, saling bercerita, dengarkan curhat kakak, ketawa-tawa, itu semua akan jadi pengalaman indah bagi kakak.

Bila Bunda kerja kantoran dan anak kedua masih bayi, ingatlah begitu pulang, masuk ke rumah, peluk dan cium anak pertama dulu daripada adiknya. Karena bayi belum bisa cemburu.

Sementara kakaknya bisa sebal banget kalau sudah seharian capek menunggu mamanya pulang, eh malah adiknya yang disamperin duluan.

Jadi sabar ya, Bunda, walau pengen segera nenenin si bayi, tapi perasaan kakaknya wajib dijaga.

Bagi yang anak keduanya sudah bukan bayi, perlu juga Bunda kencan berdua dengan adiknya. Jadi tiap anak punya quality time berduaan saja sama Bunda-nya.


Kesalahan 3: Membandingkan Kakak dengan Adiknya

  • "Kak, kok makannya lama banget, banyak yang tumpah lagi. Nih liat adik maemnya cepet, sudah habis dari tadi"
  • "Kak, kok gitu aja nangis sih, ni adik yang masih bayi aja jarang nangis"

Dibanding-bandingkan seperti ini rasanya tidak enak sekali, lho.

Mau bukti?

Coba bayangkan, misal suami kita berkata, "Mah, ini dapet kiriman masakan dari mbak tetangga. Enak banget deh, Mah. Coba Mama bisa masak selezat ini."

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Sunyi senyap, atau malah ramai bunyi piringnya dilempar?

Jadi solusinya bagaimana?

Tahan ucapan yang membandingkan, itu menyakiti hati kakak. Bandingkan dia hari ini dengan dirinya yang kemarin. Misal, "Kakak kok maemnya tidak habis, kemarin kan kakak pinter makannya, piringnya bersih tidak ada sisa makanan"


Kesalahan 4: Pembagian Waktu Bunda yang Berat Sebelah

Sering menyusui, ganti popok, memandikan, jelas menyita banyak waktu Bunda. Jadi waktu lebih banyak dihabiskan untuk si bayi. Maka kakak merasa dianggurin. Mau main bareng saja susah banget, tidak sempet melulu mamanya.

Nah dia jadi gampang bosen. Akhirnya cari perhatian dengan melakukan hal-hal yang dianggap mengganggu seperti teriak-teriak, lari-lari tanpa henti, menganggu adiknya, dan sebagainya.

Lalu, solusinya apa?

Libatkan semua aktivitas bersama. Misal saat lagi main bareng kakak, eh... adiknya bangun dan minta nenen. Ya sudah itu mainan diangkut ke kasur. Nenenin sambil liatin kakak mainan. Yang penting dia tidak merasa ditinggal sendiri.

Si kakak berisik sampai-sampai adiknya tidak bisa tidur?

Saya akan minta dia kecilkan suara, bukan memarahi menyuruh diam. Tapi yang namanya bocah, ya pasti bakal makin keras lagi kan suaranya.

Kalau sudah begitu, saya akan angkat adiknya dan menidurkan dalam gendongan. Walaupun berisik, asal digendong si bayi tetap bisa lelap. Memang bundanya lebih capek, tapi tidak apa-apa yang penting tidak membuat si kakak merasa diduakan.

Jangan khawatir, kakak tak selamanya tak mau mengerti. Kalau kita kasih tahu dengan lembut, lama-lama dia akan mau untuk tidak berisik saat adiknya tidur. Kalau kita marahi terus, malah kakak akan semakin sulit diajak kerjasama.

Bisa dicoba ucapkan begini, "Kak, kalau adik bobok, Mama kan jadi bisa nemenin kakak main. Bisa ya tolong pelan ngomongnya."

Yang harus diingat, kita tidak boleh ingkar janji. Setelah menidurkan adiknya, ya setelah itu betul-betul temani si kakak main. Kalau bohong, jangan harap besoknya kakak mau percaya lagi.

Saat adik mau dimandikan, libatkan kakak dalam menyiapkan handuk dan baju untuk adiknya dengan gembira. Ucapkan terima kasih atas sekecil apapun bantuannya.

Berikan juga aneka permainan sebagai bentuk penyaluran energi kakak, seperti susun lego ataupun balok, main playdoh, menggambar dan mewarnai, apa sajalah yang dia suka dan membuatnya sibuk dalam waktu lama.

Saat papanya di rumah, usahakan papanya lebih sering pegang si bayi. Biar emaknya bisa lebih banyak waktu untuk kakaknya.


Kesalahan 5: Langsung Menyapih Kakak Ketika Adik Lahir

Khusus jika jarak keduanya sangat dekat sehingga kakak belum lepas ASI, sebaiknya jangan tiba-tiba langsung menyapihnya dan kemudian mengalihkan ASI untuk adiknya.

Dobel kekecewaan akan dialami si sulung. Disapih secara paksa adalah yang membuatnya sedih dan kecewa. Merasa dijauhkan dari hal yang membuatnya nyaman.

Eh kemudian dia lihat adik bayinya disusui terus. Makin tidak sukalah kakak sama adiknya. Banyak kasus sibling rivalry berawal dari berpindahnya nenen untuk si adik seperti ini.

Jadi solusinya bagaimana?


  • Lanjut memberikan untuk si kakak. Bisa kok menyusui untuk 2 anak sekaligus. Malah bagus, kakak jadi dapet ASI yang lebih berkualitas. Bisa browsing "Tandem nursing" untuk info lebih lengkapnya.
  • Lepas ASI secara bertahap. Dikurangi frekuensinya. Bisa browsing "Weaning With Love" ya untuk artikel komplitnya.


Kesalahan 6: Bersikap Tidak Adil

Saat mereka berseteru, coba biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Bila sudah makin menjadi, barulah Bunda intervensi. Tapi jangan selalu meminta kakak yang mengalah. Tanyalah duduk permasalahannya dan tanya pendapat masing-masing baru diskusikan solusinya.


Bila membeli mainan, belilah untuk tiap anak. Kalau hanya dibelikan salah satu, mereka akan anggap orangtuanya berlaku tidak adil. Namun untuk mengajari konsep hak milik, belilah mainan yang berbeda. Jadi mereka belajar cara meminjam mainan saudaranya dengan cara yang baik.


* * *

Anak pertama saya mengalami sibling rivalry selama 3 bulan pertama kehadiran adik bayi. Padahal sejak hamil, si kakak sudah saya ajari untuk elus-elus perut dan cerita enaknya punya adik. Tapi tetap saja dia merasa iri berat sama adik bayinya.

Setelah saya merenung dan berpikir, saya menyadari letak kesalahan dan memperbaikinya, syukurlah badainya sudah berlalu. Sekarang mereka berdua amat sangat kompak dan saling sayang.

Bagi yang masih bingung mengatur jarak kelahiran, kalau rekomendasi dari Dinas Kesehatan, jarak antara anak pertama dan kedua adalah 5 tahun.

Agar ibu tidak stres karena ada dua balita di rumah dan anak pertama juga sudah cukup besar sehingga meminimalisir terjadinya sibling rivalry. Tapi semua dikembalikan lagi pada kesiapan kedua orangtua, kapan waktu yang tepat untuk menambah anggota keluarga.


Dari akun Facebook Refita Putriana, oleh Amalia Sinta (dengan penyesuaian)
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar