Menumbuhkan Empati pada Anak, Dimulai Sejak Dini di Rumah

KB TKIT HARAPAN BUNDA - Dengan kondisi saya yang masih dalam penanganan depresi oleh psikiater, masalah yang tidak terlalu besar bisa membuat saya sedih hingga menangis.

Seperti beberapa hari lalu, anak-anak sedang bermain di kamarnya lalu mendengar saya menangis. Segera mereka datang ke kamar saya, memeluk dan diam tidak berkata apa-apa, hanya menemani hingga saya selesai menangis dan bisa cerita pada mereka.

Di waktu lain, mereka akan bertanya: "Bunda, are you still sad?", "Bunda, what can I do for you, to make you feel better?" Saya sangat bersyukur bahwa anak-anak telah belajar ber empati dan masih terus berproses.

Bagi saya, empati adalah kemampuan sosial yang perlu diperkenalkan, dicontohkan, dilatih sejak dini. Dengan pesatnya perubahan jaman yang bisa membuat orang makin jarang berinteraksi langsung dengan orang lain, maka rumah, menjadi madrasah utama dan pertama bagi anak-anak.

Richard Weissbourd dan Stephanie Jones dari Harvard menjelaskan secara singkat bahwa empati adalah bagaimana seseorang bisa memiliki kapasitas mengambil perspektif orang lain, bisa berjalan di sepatu orang lain, termasuk merasakan apa yang dirasakan orang lain tersebut.

Tugas kita sebagai orang tua menjadi contoh, teladan, mengajarkan sedini mungkin yang beberapa langkah-langkahnya di antaranya:


1. Penuhi kebutuhan emosi anak dan menjadi "kamus" bagi anak apa saja alternatif respon akan suatu kondisi

Di salah satu bagian buku How to Talk So Kids Will Listen & Listen So Kids Will Talk dipaparkan bahwa seringkali kita sebagai orang tua abai akan perasaan anak, atau tidak menerima perasaan anak. Sejak bayi kalau kita flash back, entah berapa sering kita abaikan kebutuhan anak terutama kebutuhan emosi mereka.

Belum lagi respon kita yang salah, seperti balik memarahi hingga membentak. Padahal anak-anak belajar empati salah satunya dari memperhatikan kita, dan merasakan empati kita kepada mereka. Dengan ber empati kepada anak kita, anak kita akan belajar untuk percaya serta membangun kedekatan emosi kita dengan anak.

Contoh kesalahan yang pernah saya lakukan: Di siang hari saat mau keluar rumah, anak saya bilang mau pakai jaket. Karena ribet bawa barang, saya bilang di luar panas ngapain pake jaket. Anak saya bilang bahwa dia kedinginan. Saya keukeuh bilang di luar panas, tidak perlu pake jaket. Padahal respon yang sebaiknya saya berikan itu datang ke anak saya, tanyakan kembali apa sedang tidak enak badan, pegang kepala/lehernya untuk cek suhu tubuhnya, hingga cek pakai termometer. Dan bilapun ternyata anak baik-baik saja dan tetap ingin pakai jaket, biarkan saja dengan ingatkan konsekuensinya seperti akan kepanasan dan pegang sendiri jaketnya bila dilepas.

Di waktu yang lain, anak pertama saya cerita bahwa dia di bully di sekolahnya. Bully secara fisik hingga luka dan secara emosi. Saya tanyakan dulu apa perasaannya, apa yang akan dilakukannya, akankah dia mem bully anak lain di kemudian hari, dll.

Momen baca buku bersama juga saat yang bagus untuk belajar bersama dari cerita-cerita yang bisa dijadikan contoh kasus bagaimana berempati. 

Atau saat ada musibah seperti banjir, gempa bumi dan yang paling relevan sedang dilakukan saat ini adalah berpuasa di bulan Ramadhan. Sering saya bercerita banyak orang yang menahan lapar dan haus bukan karena berpuasa, atau ada yang berpuasa tapi untuk sahur dan berbuka tidak ada yang bisa dimakan.


2. Hargai perilaku empati anak sekecil apapun itu

Kadang kita abai akan perilaku empati anak-anak karena kita anggap hal yang remeh. Misalnya saat mereka mengambilkan barang kita yang jatuh, atau saat mereka berbagi makanan, mainan dll ke saudara/teman, dll.

Ucapkan Terimakasih dengan tulus sambil menatap mereka merupakan hal sepele tapi sulit dilakukan kalau kita tidak terbiasa.

Tiga kata yang perlu dibiasakan sejak dini seperti: Terimakasih, Maaf dan Permisi. Untuk terimakasih saya ajarkan juga dengan menggantinya dengan JazaakAllahu khair, Barakallahu fiik.


3. Libatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah tangga sehari-hari

Anak-anak sejak kecil dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga sehari-hari seperti membersihkan kamar tidur, mencuci piring, memberi makan hewan peliharaan, dll.

Di dalam salah satu artikel babycenter yang saya baca dinyatakan bahwa anak-anak yang belajar mengenai tanggungjawab juga belajar mengenai kepentingan dan kebutuhan orang lain serta menumbuhkan rasa peduli.

Saat ini kedua putra saya (usia 10 tahun dan 8 tahun) secara rutin bertanggungjawab akan kamarnya, cuci piring, melipat baju, dan yang tidak rutin seperti memberi makan kucing liar, membantu suami saya membersihkan rumah, menjemur baju dll.


4. Sebanyak mungkin paparkan anak-anak untuk mengalami contoh-contoh nyata untuk berempati

Sebenarnya sejak saya menderita penyakit kronis anak-anak sudah terbiasa dengan RS. Di mana di RS banyak sekali contoh pembelajaran untuk ber empati.

Selain itu juga menengok teman/kerabat yang sakit termasuk agenda wajib selama saya mampu bersama anak-anak. Tapi sebenarnya saya sendirilah yang menjadi sarana latihan anak-anak untuk berempati sehari-hari di rumah, di mana seringkali saya butuh bantuan mereka baik secara fisik maupun mental.

Dan masih banyak lagi yang bisa kita lakukan, bila belum, mari segera dimulai, tidak ada kata terlambat.


Sumber: Facebook Fatimah Berliana Monika Purba
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar