Menangani Anak Tantrum

Ilustrasi: sehatmagz.com

KB TKIT HARAPAN BUNDA - Pernah mengalami cerita ketika anak Anda tiba-tiba berteriak-teriak tanpa henti, berbaring menggelepar di lantai, menendang atau melempari barang-barang? Itu berarti dia sedang dalam kondisi tantrum. Tantrum bukanlah suatu kondisi yang berbahaya, dan wajar dialami oleh anak-anak terutama balita.

Tantrum adalah suatu kondisi emosional yang umum dialami oleh anak-anak usia 1-4 tahun, biasanya karena mereka  mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka akibat tidak terpenuhinya keinginan mereka, atau hanya sekedar ingin untuk mendapatkan perhatian dari orang tuanya.

Dikutip dari Colorado State University Extension, R.J. Fetsch and B. Jacobson mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata "aku" dan "keinginan dirinya" tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan "dalam bentuk kata-kata".

Lalu, bagaimana cara menangani anak ketika dia mengalami tantrum? Ada beberapa trik yang bisa Anda lakukan.


1. Cari tahu penyebab tantrum

Apakah karena dia sakit secara fisik, emosi, atau yang lainnya. Bila perlu, catat perilaku keseharian anak, sehingga Anda bisa mengetahui kapan anak marah, dengan cara apa anak bisa menurut, kapan dia kelelahan, dan sebagainya. Dari catatan itu, nantinya kita bisa mencari jalan untuk meminimalisasi terjadinya tantrum, atau dapat menangani ketika sudah terlanjur meledak.


2. Tetap tenang, sampai anak berhenti sendiri

Biarkan anak mencurahkan perasaannya, seringkali dia meledak sebagai alat untuk melampiaskan emosinya. Teruskan saja kegiatan Anda sampai anak tenang dengan sendirinya, dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama, sambil memantau kondisi sekitar untuk memastikan anak Anda aman dari bahaya.


3. Hindari memukul anak Anda

Jangan sekali-sekali memukul anak Anda, khususnya ketika sedang tantrum. Kemarahan Anda tidak akan menghentikan tantrum anak, justru anak cenderung meningkatkan perilakunya. Peluklah anak sampai dia tenang.


4. Jangan langsung menuruti kemauan anak ketika sedang tantrum

Anda sedang "berperang" dengan anak; memenuhi kemauan anak saat itu tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menimbulkan masalah baru. Bila dengan meledak marah keinginannya dipenuhi, anak akan cenderung mengulang sikap itu ketika menginginkan sesuatu. Jelaskan baik-baik ketika kemarahannya sudah reda, mengapa keinginannya itu belum atau tidak dapat dipenuhi.


5. Kondisikan lingkungan anak

Singkirkan barang-barang yang berbahaya atau dapat dijadikan pelampiasan kemarahan anak. Alternatifnya, bawa anak ke ruangan yang membuatnya lebih bebas mengekspresikan emosi tanpa merusak barang-barang di sekelilingnya.

Pengkondisian ini termasuk juga dengan memberi pengertian pada orang sekitar. Seringkali usaha kita gagal karena tindakan orang lain yang tidak selaras dengan Anda. Anda sudah membiarkan anak tantrum, tetapi orang lain yang justru langsung memenuhi keinginan anak dan cenderung memanjakannya. Sampaikan pada mereka dengan bahasa yang mudah dipahami.


6. Menjaga komunikasi

Senantiasalah menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak Anda, sehingga dirinya merasa lebih nyaman mengungkapkan harapannya kepada Anda. Berilah pujian atau penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai.

Komunikasi antarorang tua juga penting. Kedua orang tua harus memahami konsep tantrum dan bagaimana harus bertindak. Kesepakatan orangtua penting, agar anak melihat orangtuanya secara seimbang. Jangan sampai anak memposisikan ayah sebagai "pahlawan" karena keinginannya dibela dan ibu sebagai "musuh" karena keinginannya ditentang, atau sebaliknya.



(Dari berbagai sumber)
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar