Kesalahan Saat Disiplinkan Anak

Berbuat kesalahan adalah bagian dari peran sebagai orang tua, dan disiplin merupakan area kita bolak-balik ‘terpeleset’. Claire McCarthy, M.D, membuat daftar 5 kesalahan yang umum dilakukan orang tua saat mendisiplinkan anak:

1. Berpikir bahwa satu cara bisa diterapkan kepada setiap anak. Ada anak yang langsung takut saat orang tuanya berbicara keras, ada juga yang tidak terpengaruh. Sebagian anak belajar saat pertama orang tua berbicara dengan dia, tetapi ada anak yang perlu dinasihati berkali-kali. Sebenarnya, ini semua berkaitan dengan usia dan perkembangan mereka. Tugas batita adalah melakukan hal-hal ‘gila’ yang sudah berkali-kali Anda larang. Sementara, anak yang lebih besar mulai menunjukkan kemandirian dengan cara menjengkelkan. Mereka tidak akan mau mendengarkan nasihat panjang lebar. Batita perlu disiplin cepat, sederhana, dan langsung. Anak baru gede lebih merespons kepada hukuman yang membuat mereka harus meninggalkan kelompok pertemanan. Apa pun yang Anda lakukan, ketahui bahwa mereka senang melakukan hal yang tidak menyenangkan untuk beberapa saat saja. Memahami posisi mereka dalam kehidupan adalah kunci menemukan pendekatan yang tepat untuk menerapkan disiplin dan menghindarkan  keputusasaan Anda.

2. Berlebihan melakukannya. Hukuman (konsekuensi) seharusnya sesuai dengan perilaku buruk, bukan tingkat frustrasi Anda. Hukuman juga harus masuk akal, tidak berpengaruh kepada anak-anak lain yang tidak melakukan kesalahan. Jika anak berperilaku tidak baik kepada saudaranya, misalnya, dia harus tahu bahwa hal itu akan ada konsekuensinya. Katakan saja, “Konsekuensi,” dengan tegas, serius menatap dia, tetapi tidak perlu berteriak.

3. Tidak cukup tegas. Mungkin maksud Anda baik, hanya memberi nasihat saat anak berperilaku tidak baik. Dan, dia terus melakukannya, karena tahu, Anda tidak akan menghentikan dia. Atau, anak seperti tidak peduli apa pun yang Anda katakan. Dihukum dengan time out, eh dia malah asyik main di sudut time out. Agar hukuman diperhatikan, perlu sesuatu yang membuat anak tidak ingin hal itu terjadi lagi. Misal,
melarang anak bermain dengan mainan kesayangannya, meminta dia diam di kamarnya beberapa saat, atau membuat dia kehilangan waktu menonton TV atau main game di tablet, biasanya cukup berhasil untuk batita.

4. Tidak konsisten. Sekali sudah mengatakan “tidak” ketika anak melempar-lempar pasir di playground, Anda harus konsisten. Karena Anda tidak mau mengatakan “tidak” untuk semua hal, pilih hal apa saja yang penting dipermasalahkan. Begitu Anda sudah memutuskan aturan-aturan, jelaskan dan bersikaplah teguh.

5. Fokus kepada hal negatif. Jika anak selalu tidak bisa mematuhi aturan, hubungan Anda dengan dia akan menjadi sulit, jika yang Anda lakukan adalah selalu mengomeli dia. Solusinya, temukan perilaku baiknya. Jika Anda menemukan dia bisa manis kepada adiknya selama 15 menit, misalnya, dia boleh mendapat hadiah. Cobalah memerhatikan apa saja perilaku baiknya. Anda akan terkejut bahwa ini akan efektif: Manusiawi jika seseorang suka dipuji dan ingin menyenangkan orang yang dia cintai. Hal ini juga bisa Anda terapkan untuk hal-hal lain. Ketika masuk ke sebuah toko, alih-alih mengatakan, “Kalau kamu nakal, Mama akan sangat marah dan nggak akan membelikan kamu permen!” coba katakan, “Kita harus belanja, dan Mama perlu bantuan. Jika kamu baik dan menolong Mama, kita akan beli es krim dalam perjalanan pulang.” Disiplin bukanlah sekadar menetapkan aturan yang harus diikuti, melainkan yang membuat anak Anda aman, dan menolong dia tumbuh menjadi orang dewasa yang baik, sukses, dan bahagia.
Sumber ; parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar