Kebiasaan Ngemil Sehat Pada Anak

Harapan Bunda Semarang - Pada dasarnya, manusia itu suka ngemil, jadi memperkenalkan kebiasaan snacking kepada anak seharusnya tidak terlalu sulit. Perkenalkan secara perlahan, misalnya dengan menyiapkan snack di 3-4 jam setelah makan besar, lalu bawakan ke sekolah/ taruh di meja makan tanpa paksaan. Dengan demikian, anak akan menyadari bahwa jika dia lapar atau butuh camilan saat dia sedang belajar, yang dia perlukan sudah tersedia. Cara ini termasuk pasif, namun paling aman, sehingga tidak menimbulkan tekanan kepada orang tua maupun anak. Di sini bisa dilatih motto bahwa orang tua yang menentukan jam dan pilihan makan, sementara anak yang memilih untuk makan dan porsinya.

Tidak kalah penting adalah secara aktif mengajak anak menikmati snack time. Jika anak enggan, mama atau papa bisa mengonsumsi snack sambil ngobrol dengan anak, sehingga melibatkan anak dalam pola snacking. Dengan demikian, anak juga bisa melihat bahwa orang tuanya menikmati snacking, dan bisa tertarik untuk ikut mencoba.

Untuk anak-anak yang lebih besar, mengubah snack mereka menjadi lebih sehat tentu perlu trik juga, apalagi jika dia tidak terbiasa atau di sekolah sudah ada pengaruh dari teman-temannya yang membawa atau jajan snack tidak sehat. Apa yang harus Anda lakukan? Untuk anak besar maupun anak usia dini yang lebih memilih jajanan tidak sehat, cara bernegosiasinya adalah dengan menyiapkan 2 atau 3 pilihan snack untuk mereka. Salah satunyanya adalah snack yang dia pasti suka. Awalnya dari 2 atau 3 pilihan tersebut berjumlah sama banyak, setelah seminggu atau 2 minggu, mulai dikurangi porsi snack yang kurang sehat, sehingga pilihannya adalah untuk memakan pilihan lainnya.

Namun, snacking tidak dapat menggantikan makanan utama. Jika Anda menyadari di jam snacking anak justru dapat makan lebih banyak/ dengan porsi besar, sebaiknya diakomodasi dengan mengganti jam itu menjadi makanan utama dan jam makan berikutnya menjadi snacking. Karena, mungkin saja anak lebih merasa paling lapar saat pulang sekolah, misalnya, sementara waktu menunjukkan pukul 3 sore. Ikuti insting Anda dan tanda yang diberikan anak.

Anak-anak adalah individu yang harus didengar dan dihargai keinginan serta pendapatnya. Tak terkecuali dalam hal makanan, sebaiknya orang tua menghormati keputusan anak. Tentu saja, anak-anak masih memerlukan bantuan orang tuanya untuk membuat keputusan terbaik. Yang perlu Anda ingat adalah bahwa masing-masing mempunyai tugas. Tugas orang tua adalah menyiapkan dan memilih makanan (tentu yang sehat mengandung gizi seimbang, ya), serta menentukan jam makan. Sementara, tugas anak adalah menentukan akankah dia makan dan seberapa banyak porsi yang akan dimakan. Mama tidak perlu khawatir dan memaksa anak yang tidak mau makan atau hanya makan sedikit. Mungkin saat itu dia memang sedang tidak lapar. Anak perlu mengenali sendiri sinyal lapar dalam dirinya.

Anda merasa khawatir jika anak akan menolak makan sama sekali jika tidak diomeli atau dengan paksaan? Jangan khawatir. Anak akan dengan sangat cepat belajar untuk makan jika dia tahu bahwa orang tuanya konsisten hanya mengeluarkan makanan di jam makan. Lewat dari jam makan, harus tunggu ke jam makan berikutnya. Dengan saling menghormati tugas masing-masing pihak, kegiatan makan akan menjadi lebih sehat dan relaks.
Sumber : parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar