Ajarkan Anak Mengalah Pada Orang Lain

Harapan Bunda Semarang - Ada kalanya, anak perlu mengalah. “Dengan mengalah, anak akan belajar berbagi, memahami perasaan orang lain, serta melihat situasi sosial sehingga bisa mengembangkan kemampuan sosialemosionalnya,” kata Rayi Tanjung Sari, M.Psi, psikolog anak. Dan, proses belajar mengalah ini menjadi bagian dari tahapan perkembangan sosial-emosional. Biasanya, hal ini mulai muncul ketika anak berusia sekitar 3 - 4 tahun, ketika ia sudah lebih baik memahami perasaan orang lain dan mulai belajar berempati. Dan, sikap mengalah ini memiliki sisi plus dan minus. Plusnya? anak belajar memahami orang lain atau situasi sosial yang ada di sekitarnya. Menurut Rayi, “Ini menunjukkan perkembangan emosi yang baik pada anak karena ia bisa mengontrol keinginannya. Tapi, kalau anak terus-menerus mengalah atau selalu diminta mengalah, hal ini bisa memengaruhi kepercayaan dirinya. Ia akan kurang memiliki sikap kompetitif dan kurang mampu berinisiatif karena biasanya mengikuti perintah/keinginan teman atau orang tua.” Bagaimana jika anak tidak mau mengalah? Ia tidak akan belajar berbagi/sharing. Juga, anak tidak akan belajar mengendalikan keinginannya pada situasi sosial tertentu.

Anak pun tumbuh menjadi anak yang egois karena keinginnya selalu dituruti. Di sisi lain, Rayi menambahkan, tanpa disadari, orang tua sering meminta kakak untuk mengalah pada adiknya. Jadi, Anda perlu mengajarkan kapan kakak perlu mengalah atau kapan tidak perlu. Karena, kalau kakak terus menerus diminta mengalah pada adik, lama-lama akan timbul rasa cemburu pada adik.  Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan saat mengajarkan mengalah pada anak:
  1. Saat berada di situasi yang mengharuskan mengalah, ajaklah anak untuk memahami situasi tersebut. Misalnya, saat bertengkar berebut mainan dengan adik, berikan pengertian pada kakak alasan ia perlu mengalah pada adik.
  2. Lakukan role play dengan anak mengenai berbagai situasi di mana ia perlu mengalah.
  3. Jangan memaksa anak untuk mengalah. Lihat kembali situasi yang yang dialaminya.
  4. Tetaplah bersikap netral. Misalnya, ketika anak bertengkar saat bermain bersama teman, sebaiknya Anda tidak langsung membelanya atau mengambil keputusan, tetapi ajak mereka berdiskusi dan mencari solusi bersama.
  5. Berikan apresiasi pada anak ketika sudah mengalah pada situasi yang tepat, seperti pelukan, ciuman, pujian.
Sumber : www.parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar