Efek Kecanduan Makanan Manis Pada Perilaku Anak

Pernah iseng-iseng menanyakan jenis camilan favorit anak di rumah, sepupunya, teman sekolahnya, atau kenalannya di taman bermain? Dijamin, jawaban yang muncul pasti tak jauh-jauh dari es krim, kukis manis, permen, cokelat, dan roti bersemir selai. Di penjuru dunia sebelah mana pun, makanan manis memang identik dengan dunia anak-anak.

Tapi masalahnya, kegemaran menyantap camilan manis ini justru bisa menimbulkan masalah kesehatan pada anak-anak. Lebih-lebih bila kesukaan menyantap makanan manis sudah mencapai level 'kecanduan' alias dilakukan secara terus-menerus hingga menjadi suatu kebutuhan. Jika sudah dimulai sejak usia kanak-kanak, kecanduan makanan manis bisa terus menetap hingga anak beranjak dewasa.

Sudah banyak penelitian membuktikan efek negatif dari konsumsi makanan manis secara berlebihan, mulai dari gangguan perilaku, gejala alergi, masalah pencernaan, obesitas, sampai melemahnya imunitas tubuh. Ini masih belum ditambah risiko klasik yang sudah berulang kali diperingatkan oleh para dokter dan orangtua selama ratusan tahun lamanya, yakni ancaman sakit gigi akibat gigi yang berlubang. Masalahnya, menjauhkan anak dari makanan manis adalah sebuah tantangan yang sama sulitnya (kalau tak mau dibilang mustahil) dengan menjauhkan semut dari tumpukan gula. Adakah cara efektif melakukannya?

Sugar high dan efek candu
Setelah mendeteksi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh konsumsi lemak secara berlebihan, kini para pakar dan pengamat di bidang nutrisi dan kesehatan memfokuskan perhatian mereka pada konsumsi gula berlebihan, khususnya yang dilakukan oleh kelompok usia dini alias anak-anak. Gaya hidup lembam (sedentary lifestyle) dan konsumsi gula berlebihan adalah dua hal yang dicurigai menjadi biang keladi meningkatnya jumlah anak penyandang obesitas di berbagai belahan dunia.

Berdasarkan rekomendasi badan kesehatan dunia WHO, konsumsi gula maksimum per hari semestinya tak melebihi 5 persen dari total asupan kalori harian (kira-kira 5 sendok teh untuk anak usia 4-6 tahun, 6 sendok teh untuk anak usia 7-10 tahun, dan 7 sendok teh untuk anak usia 11 tahun ke atas). Nyatanya, menurut sebuah survei yang dilakukan di Inggris belakangan ini, rata-rata anak mendapatkan asupan gula sebanyak 12-16 persen dari total asupan kalori harian. Artinya, rata-rata anak mendapatkan dua hingga tiga kali lipat dari jumlah asupan gula yang semestinya disantap setiap hari.

Mengapa hal ini bisa menjadi masalah?
Menurut dr. William Sears, dokter spesialis anak dari California, AS—yang juga penulis sejumlah buku bestseller tentang nutrisi dan pengasuhan anak, meski gula bisa berperan sebagai sumber energi untuk beraktivitas, tetapi asupan gula per hari perlu dibatasi lantaran manfaat konsumsi gula jauh lebih kecil dibandingkan potensi kerusakan yang bisa ditimbulkannya terhadap tubuh kita.

“Pertama, konsumsi gula bisa mengakibatkan masalah perilaku yang dikenal dengan nama 'sugar high'. Efek sugar high ini lebih besar pada anak-anak, karena tubuh mereka lebih sensitif terhadap gula dibandingkan orang dewasa. Sugar high adalah perilaku hiperaktif temporer yang terjadi beberapa saat setelah konsumsi makanan manis. Menurut penelitian, kadar hormon adrenalin pada anak-anak bisa meningkat 10 kali lipat dari normal selama 5 jam setelah konsumsi gula. Sayangnya, lonjakan energi ini akan diikuti dengan perasaan lemas berlebihan setelah efek gula melemah,” kata dr. Sears.

Berdasarkan penelitian yang dituangkan dalam buku Feeding the Brain karya Dr. Keith Conners—psikolog dari Children’s Hospital National Medical Center di Washington, DC, AS ini, konsumsi gula berlebihan juga bisa mengakibatkan penurunan kemampuan belajar pada siswa prasekolah. Bukan hanya itu, gula juga memiliki sifat adiktif yang ‘sebelas-dua belas’ dengan efek kecanduan narkoba (dalam buku Mood Cure disebutkan bahwa gula dikenal dengan nama ‘candu’ ketika baru tiba di tanah Eropa pada tahun 1100).

Karena efek candu inilah, semakin banyak gula yang masuk ke dalam tubuh kita, semakin tinggi pula keinginan kita untuk menyantap yang manis-manis. Pasalnya, konsumsi gula berlebihan akan mengakibatkan peningkatan kadar gula darah, yang kemudian diikuti dengan produksi hormon insulin dalam jumlah besar. Kelebihan kadar insulin dalam darah inilah yang kemudian memicu sensor pada otak untuk menyantap gula lebih banyak lagi.
Sumber : parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar