4 Manfaat Sosial Anak Bermain di Luar

Anak-anak zaman sekarang makin sedikit yang suka bermain di luar rumah. Ini bukan sekadar kesimpulan pribadi, namun sesuai dengan hasil penelitian Sandra L. Hofferth, Ph D, Profesor di Department Family Science, University of Maryland School of Public Health, Amerika Serikat (2006) yang menyebutkan bahwa waktu bermain outdoor rata-rata anak telah menurun lebih dari 9 jam per minggu dari tahun 1981 hingga 2003. Mereka lebih asyik main di dalam ruangan dengan perangkat elektronik atau nonton TV ketimbang mencari kesenangan di alam bebas.

Bisa jadi, ini karena sudah jarang orang tua yang mengatakan pada anaknya, “Sana kamu main di luar!”. Sebaliknya, lebih banyak orang tua yang menyarankan, “Sudah kamu di rumah saja!” dan ikut menjadi ‘sponsor’ anak-anak untuk bermain gadget maupun game console. Padahal, acara bermain bebas di luar ruangan punya segudang manfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan diri anak.

1. Memperbaiki Mood dan Mengatasi Stres
Saat bermain di luar, paparan sinar matahari mengaktifkan kelenjar pineal yang mendorong otak menghasilkan serotonin. Serotonin adalah neurotransmitter yang bertanggung jawab meningkatkan suasana hati dan energi seseorang. Inilah mengapa, saat anak-anak aktif di luar, mereka juga akan lebih bergembira, tidak stres, mudah tertawa lepas, dan bersemangat.

Jika anak tengah rewel, sering menggerutu, dan mudah mengamuk, mengajaknya ke luar ruangan dan mendapat sinar matahari juga dapat memperbaiki suasana hatinya. Bisa jadi, inilah alasan para orang tua zaman dahulu menyuruh anaknya bermain di luar saat sering berbuat ulah di dalam rumah. Ketika tahun ajaran sekolah dimulai, ajaklah anak-anak beraktivitas di luar ruangan setiap akhir pekan. Penelitian menunjukkan, aktivitas luar ruangan terutama di alam dapat menurunkan kadar hormon kortisol atau hormon stres.

2. Meningkatkan Keterampilan Sosial
Saat anak bermain di luar dan bertemu dengan teman sebayanya, mereka akan belajar banyak hal. Bermain di luar dengan teman sebaya memungkinkan anak mengembangkan kemampuan problemsolving dan keahlian untuk bekerjasama dengan orang lain. Bukan hanya bermain bersama, saat bermain sendirian di luar pun anak dapat meningkatkan keterampilan sosialnya. Pengalaman bermain di luar sendirian dapat meningkatkan kewaspadaan dan disiplin diri. Kedua kemampuan ini adalah keterampilan penunjang untuk mengembangkan hubungan interpersonal anak kelak kemudian hari.

3. Merangsang Kreativitas dan Kemandirian
Saat anak bermain di ruangan terbuka, mereka belajar untuk melakukan hal-hal secara spontan dan independen untuk menghibur diri sendiri tanpa selalu mengandalkan orang dewasa. Misalnya, saat di halaman dan melihat batu, kayu, atau daun, mereka akan berpikir bagaimana caranya memanfaatkan benda-benda tersebut untuk bermain. Permainan yang dimainkan pun bisa beraneka ragam, tergantung kemampuan kognitif dan emosional anak.

Berdasarkan penelitian, permainan yang tak terstruktur, seperti bermain apa saja di alam, sangat mengasah kreativitas, imajinasi, dan inovasi anak sejak dini. Hasilnya, kelak anak yang banyak bermain di luar akan semakin kaya akan pemikiran yang bebas, penuh inisiatif, tidak takut mengambil risiko, dan terlatih dalam memecahkan masalah. Bahkan, bermain di luar juga dapat mengasah kemampuan kepemimpinan terutama bila anak kerap bermain dengan teman-teman sebaya.

4. Meningkatkan Kemampuan Bahasa
Anak-anak yang terlalu sering bermain di dalam ruangan cenderung pendiam dan pasif. Sementara sebaliknya, anak-anak yang memiliki banyak kesempatan bermain di luar relatif mengalami kemajuan kemampuan berkomunikasi yang lebih baik. Ini disebabkan, anak yang bermain di luar memiliki kesempatan yang lebih besar untuk melatih kemampuan bahasanya.

Setidaknya, ia harus mengutarakan keinginannya pada orang lain saat berada di luar rumah. Terutama pada anak laki-laki, mereka cenderung menemukan ‘katakata’-nya dari luar ruangan ketimbang mempelajarinya dari orang tua di rumah. Agar anak tak lambat bicara, ajak anak untuk sering bermain di luar dan bertemu dengan banyak orang serta teman sebaya.

Biarkan anak belajar berkomunikasi tanpa harus diperintah. Saat ia bertemu teman sebayanya dan bermain bersama, anak akan belajar mengikuti aturan main sekaligus berkomunikasi. Atau, pancing dengan mendeskripsikan apa yang dianggapnya menarik dari lingkungan luar, seperti mendeskripsikan tekstur dari benda-benda di alam, cuaca, warna, dan sebagainya.
Sumber : www.parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar