Anak Mudah Marah, Wajarkah?

Saat Anda asyik ngobrol dengan para sahabat di ruang tengah, tiba-tiba terdengar teriakan si bungsu dari teras belakang, di mana ia sedang bermain dengan anak salah seorang sahabat Anda. “Aku nggak mau temenan sama kamu lagi! Aku nggak suka sama kamu! Kamu nggak boleh main ke sini lagi!” teriak anak berumur 4,5 tahun itu. Rupanya, balita Anda ingin bermain masak-masakan, sementara teman sebayanya itu lebih suka bermain boneka. Ia pun kesal dan marah, karena keinginannya main masak-masakan tidak dituruti sang teman, yang sama-sama ngotot dengan kemauannya sendiri.

Beberapa hari sebelumnya, di taman dekat rumah, anak pun berperilaku seperti itu, langsung marah dan ngamuk kepada temannya, yang ingin mengajak anak-anak lain bermain pasir bersama mereka berdua. Kenapa anak jadi mudah marah seperti itu, ya? Apa yang harus Anda lakukan? Karena, tentu saja, Anda tak mau ia tumbuh dewasa menjadi seorang pemarah, sehingga dijauhi teman-temannya, kan? Perilakunya wajar atau tidak?

Sebenarnya, menurut Devi Raissa, M.Psi., psikolog dari Rainbow Castle, klinik psikologi anak yang khusus menyediakan layanan terapi berbasis bermain, perilaku semacam itu wajar pada anak-anak usia balita. “Karena selama ini ia terbiasa berada di lingkungan rumah, yang hanya ada mama, papa, atau kakak dan adik, sehingga belum tahu cara berperilaku dengan teman sebayanya,” kata Devi. “Di rumah, kan, kalau mau apa-apa, lebih dikasih dan dituruti. Kalau di luar rumah, belum tentu.”

Apalagi, tambah Devi, kemampuan anak balita untuk mengontrol atau meregulasi emosi maupun perilaku masih baru berkembang, sehingga ketika emosi hebat melanda, ia pun tak selalu mampu bersikap atau berperilaku tenang. “Kebanyakan masih belum tahu, ketika ada rasa tidak enak atau rasa enak, yang ia rasakan itu sebenarnya apa, sih? Anak belum tahu yang namanya marah, senang, sedih, dan lain sebagainya. Yang ia tahu, ketika ada rasa tidak enak, misalnya, ia cuma ingin rasa itu hilang. Bagaimana caranya? Ya, mungkin dengan memukul, langsung merebut balik mainannya yang dimainkan temannya, atau teriak,” kata Devi menjelaskan.

Namun, seiring dengan peningkatan kecerdasan anak, kemampuannya meregulasi emosi akan berkembang, kok, Ma. Karena kemampuan meregulasi emosi memang berkaitan erat dengan tingkat kecerdasan. Setiap anak yang kecerdasannya normal, pasti akan punya kemampuan untuk tenang. Hingga berumur 2 tahun, anak memang belum mengerti emosinya apa. Tetapi, memasuki usia 3 tahun, ia mulai bisa memahami bahwa pasti ada penyebab munculnya suatu emosi.

Bahkan, di usia 4-5 tahun, anak dapat menebak dengan tepat emosi yang muncul dalam dirinya, atau ditampilkan seseorang, serta penyebabnya, walau ia masih lebih sering mengira penyebab itu adalah faktor-faktor dari luar atau eksternal, bukan internal. Anak usia ini pun sudah bisa mengetahui, jika seseorang merasakan emosi tertentu, pasti akan bereaksi. Maka tak heran, misalnya, ketika anak marah, karena didorong temannya, ia akan langsung memukul temannya itu, atau berteriak tidak mau berteman lagi. Meskipun demikian, di akhir usia 4 tahun, anak sebenarnya mulai bisa mengetahui cara positif untuk membuat emosi negatif hilang, lho, Ma. Misalnya, ia tahu bahwa ia akan menjadi lebih lega, jika saat menangis, kemudian Anda memeluknya. Atau, saat marah, ia merasa lebih lega begitu menangis.
Sumber : parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar