Ajarkan Anak Berperilaku Tepat Sesuai Emosi

Setelah membantu anak mengenali emosi pada dirinya maupun orang lain, Anda bisa mengajarkan ia cara bersikap ketika memiliki suatu emosi tertentu. Termasuk, cara menghilangkan emosi negatif, tanpa menghilangkan hak orang lain juga. Latih anak untuk mengekspresikan perasaannya, Ma. Misalnya, Mama bisa mengatakan seperti ini, “Kamu kelihatan sebel banget waktu Nicho mengajak Kenzo dan Jason main pasir bareng kamu dan Nicho. Yuk, Mama bantu bilang ke Nicho, kalau kamu lebih suka main pasir cuma berdua Nicho saat ini, dan nanti saja mainnya sama Kenzo dan Jason juga.”

Saat anak berperilaku negatif, coba lihat lebih dalam apa yang anak butuhkan sampai ia berperilaku seperti itu. Karena saat anak berperilaku negatif, sebenarnya di balik itu ada sesuatu yang ia butuhkan, tetapi tidak ia dapatkan, atau ada suatu emosi besar yang ia rasakan,tetapi tidak dapat atau tidak berani ia ungkapkan. Anda bisa menggunakan kalimat berikut, “Mama lihat kamu maunya Mama gendong terus. Mama tahu, pasti tidak enak, ya, Mama perhatiin adik bayi terus. Mama akan main sama kamu, dan kita tidur berdua, ya, setelah Mama menyusui adik.”

Pahami ini, Ma: Emosi itu baik, pertanda bahwa anak sehat. Sekali anak merasa emosinya dipahami dan diakui, emosi itu dengan sendirinya akan menjadi lebih terkontrol. Nah, ketika itulah problem solving bisa masuk. Sebaiknya, hindari keinginan untuk menyelesaikan masalah anak, tetapi coba tukar pikiran dengannya. Misal, Anda bisa menggunakan kalimat ini, “Kamu kesal banget, ya, hari ini Papa tidak jadi ajak kamu ke taman. Kalau kamu sudah tidak kesal, kita bisa cari ide untuk bikin kegiatan yang seru selama di rumah.”

Devi Raissa, M. Psi., psikolog dari Rainbow Castle menyarankan, sebaiknya Anda tidak menggunakan bentuk hukuman apa pun kepada anak untuk mengatasi perilaku maupun emosi anak yang negatif, karena secara tidak sadar, Anda mengajarkan penggunaan kekerasan juga kepada anak. “Banyak riset juga mengatakan, ketika orang tua menggunakan hukuman, apalagi fisik kepada anak, anak cenderung berperilaku agresif juga kepada teman-teman sebayanya. Karena anak jadi punya semacam role model untuk itu dari orang tua,” kata Devi.

Sebaliknya, izinkan anak mengeskpresikan emosinya, apa pun itu, entah marah, benci, cemburu, sedih, bahagia, kesal, dan lain sebagainya, tetapi batasi perilakunya. Gunakan empati untuk itu, dan akui sudut pandang anak. Jika memang ada hal yang membuat anak kesal, Anda tak perlu memberi solusi apa pun atau penghiburan, karena ia hanya perlu Anda dengarkan dan pahami perasaannya. Namun hal itu tentu saja bukan berarti, Anda menyetujui perilakunya, ya, Ma. Refleksikan kata-kata anak, tetapi jangan ikut larut marah atau bersedih, melainkan tularkan emosi positif.

Jadi, alih-alih ikut kesal dan marah-marah ketika anak berkata kasar kepada temannya yang telah membuatnya kesal, Anda bisa mengatakan ini kepada anak, “Pasti kesal, ya, Clara tidak mau main masak-masakan dan maunya main boneka. Tetapi kalau kamu membentak Clara kayak tadi, ia pasti sedih. Kamu juga sedih, kan, kalau Clara membentak kamu?” Tentu saja, lakukan ini setelah emosi negatifnya mereda dan menjadi netral kembali.
Sumber : parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar