4 Kesalahan Orang Tua Ini Bentuk Anak Jadi Pelaku Bullying

Penyebab bullying bisa karena karakter anak sendiri, bisa juga karena ia mendapat contoh dari sekitarnya, misal teman-temannya. Ketika ada teman memaksa anak lain untuk mendapatkan keinginannya, dan guru membiarkan, anak melihat dan bisa saja meniru. Tetapi, jangan lupa, ternyata anak juga bisa mencontoh dari orang tua.

1. Melakukan bullying. Ada hal-hal yang orang tua tidak sadar melakukannya, tetapi sebenarnya memberi contoh bullying. Misal, suami istri sering berantem di depan anak, saling mencaci, berteriak, merendahkan, melempar barang. Ini membuat anak belajar cara mengungkapkan marah. Contoh lain, anak kalah dalam perlombaan, lalu di depan anak, Anda menuduh juri berlaku curang, menunjukkan ketidakpuasan, dan bahwa orang lain layak direndahkan. Atau, ketika di jalan disalip pengendara lain, Anda marah-marah, mengutuk dan memaki mereka. Pernah memarah-marahi asisten di rumah dengan kasar, menghina, dan merendahkan?

Atau, ngomel panjang lebar di restoran dan mempermalukan pramusaji yang keliru menghidangkan makanan? Anak akan melihat, bahwa memaki, merendahkan,mempermalukan orang lain karena melakukan kesalahan, atau sekadar memuaskan kemarahan kita, itu wajar. Ini berisiko memberi contoh perilaku bullying.

2. Memanjakan anak. Anak menangis, mengamuk, langsung dikasih apa yang ia mau. Sebetulnya, ini bisa membentuk bully. Karena, anak jadi belajar: kalau saya mau sesuatu, saya boleh marah dan meledak. Ia akan memperlakukan hal yang sama kepada teman-temannya. Supaya teman-temannya nurut, ia membentak-bentak, meledakkan kemarahannya untuk mendapatkan apa pun yang ia mau. Tetapi, anak yang biasa dimanja dan mudah menangis dahsyat pun bisa jadi sebaliknya, ia dianggap cengeng dan jadi sasaran bully.

3. ‘Mendorong’ anak melakukan kekerasan. “Anak tidak boleh cengeng, harus jadi jagoan, dan berani membalas kekerasan yang dilakukan temannya! Kalau dipukul, ya, balas pukul, dong! Yang penting bukan ia yang memulai.” Pernah punya pendapat seperti itu? Hati-hati, Anda sedang ‘mendorong’ anak melakukan kekerasan dan bersikap agresif. Menurut psikolog Anna Surti Ariani, S.Psi., M. Psi., “Saya tak setuju anak kecil diajari memukul balik, membalas, dan melawan temannya. Kemampuan anak kecil untuk membuat pertimbangan belum matang.

Misal, anak diajari tidak boleh memulai, tetapi kalau dipukul, maka ia boleh pukul balik. Itu membutuhkan kemampuan berpikir dan kalkulasi: Ia harus menilai dahulu ia diapakan temannya, baru setelah itu membalas. Lebih baik ajari 1 respons yang sederhana dan mudah ia ingat. Misal, kalau ada yang memukul dirinya, lapor guru atau lari saja. Ajarkan cara melapor. Ini tentu lebih mudah untuk anak karena tidak perlu berpikir panjang. Intinya adalah untuk mengamankan dirinya karena konsep pertahanan diri buat anak kecil bukanlah menyerang, tetapi bagaimana ia selamat,” papar Nina.

4. Mengajarkan anak menjadi submisif. Ini kebalikan agresif. Mengajarkan anak diam saja, tidak perlu ngomong ke siapa-siapa saat di-bully, akan membuat ia memiliki pola respons submisif. Itu juga tidak baik. Respons yang baik adalah asertif. Tetapi, jika ini masih sulit diajarkan kepada anak yang masih kecil, paling tidak ajarkan ia melapor kepada guru (jika terjadi di sekolah) atau orang tua. Semakin besar, ajari anak berani bicara langsung kepada temannya bahwa ia tidak suka dipukul atau diejek. “Itu cara yang lebih gagah, sangat membutuhkan regulasi emosi, tidak tiba-tiba membalas memukul. Anak tetap menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain dengan cara tidak memukul balik, dan ia berani bicara,” kata Nina.
Sumber : parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar