Anak Punya Teman Khayalan, Perlukah Orang Tua Cemas?

Karena sibuk sebagai mama bekerja, Metha, tidak bisa selalu menemani anaknya, Della (4), bermain. Hingga pada suatu hari di akhir pekan, Metha mendengar Della sedang asyik berbicara. Anehnya, ketika Metha hendak memastikan dengan siapa anaknya berbicara, ternyata Della tidak bersama siapapun di ruangan itu. Hanya saja Della berbicara seraya menghadap dan sesekali memegang boneka bayinya. Apa yang dilakukan oleh Della cukup membuat mamanya khawatir dan bertanya-tanya. Normalkah yang anak balitanya itu lakukan?

Anna Surti Ariani, S.Psi, M.Si, Psi., Psikolog Anak dan Keluarga dari Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Depok, menuturkan bahwa memang ada anak yang memiliki teman fantasi alias teman khayalan, yang bisa berbentuk boneka, anjing, dll. Tenang, Ma, memiliki atau tidak memiliki teman fantasi sama normalnya. Umumnya, teman fantasi muncul saat anak berusia 3-5 tahun, dan biasanya akan hilang seiring dengan bertambah besarnya anak. Meski lebih sering muncul pada anak tunggal, terkadang hal itu juga ditemukan pada anak pertama, anak yang hanya mempunyai sedikit teman, dan anak yang kreatif.

Untuk menanganinya, jangan berusaha menyadarkan anak bahwa temannya itu tidak ada, Ma. Jangan pula membesar-besarkannya dengan terus mengingatkan anak untuk mengajak teman fantasinya. Tak perlu menggunakan teman fantasinya untuk memanipulasi anak, seperti membujuk dia menghabiskan makanan karena teman fantasinya sudah menghabiskan duluan. Walaupun normal bagi anak untuk menyalahkan teman fantasinya, jangan dibiarkan. Anak tetap perlu belajar tanggung jawab dan menyadari konsekuensi dari perbuatannya.

Tentu saja, jika dia mau menanggung konsekuensi perbuatan ‘bersama teman fantasi’, persilakan saja. Tetaplah mencarikan anak teman betulan yang bisa diajak bermain atau mengobrol. Dan jika ada hal lain yang harus dia lakukan, Anda boleh saja mengingatkan lebih tegas agar dia tidak terus bermain dengan si teman fantasi. Dan, jika anak hanya mau bermain dengan teman fantasi, menghindari bermain dengan teman betulan, serta masih sulit membedakan teman fantasi dan teman betulan meski sudah lewat dari usia balita, jangan ragu mengajak dia ke psikolog, ya, Ma.
Sumber : www.parenting.co.id
Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar