Benarkah Hukuman Buat Anak Jera?

Anak-anak di satu sisi lucu dan menggemaskan. Namun, di sisi lain, tak jarang pula tingkahnya membuat orang tua naik darah. Anak tak mandi, kamar berantakan, bermain hingga lupa waktu, bertengkar dengan saudara, lupa mengerjakan PR hingga tak mau sekolah, hanya beberapa hal yang membuat emosi orang tua meninggi. Ketika kemarahan dirasa tak cukup, hukuman fisik pun dilakukan. Apakah hukuman memberi efek jera, sehingga anak tidak mengulangi lagi perbuatannya? Psikolog Bukik Setiawan, akan menjelaskannya.

Menghukum atau tidak menghukum terkadang membingungkan orang tua. Jika tidak dihukum, bagaimana anak bisa belajar bahwa perbuatannya salah dan tidak boleh diulang lagi? Memang terkadang keras, sih, tapi kehidupan anak nanti pun bisa jadi lebih keras. Jika dia tidak mengenal hukuman dari kecil, bagaimana bisa belajar? Itu antara lain alasan orang tua yang pro-hukuman. Menurut Bukik, yang juga Manajer Kampus Guru Cikal, sebelum memutuskan memberi hukuman atau tidak, orang tua harusnya mempertanyakan hal terpenting dulu, yaitu: apa sebenarnya tujuan menghukum anak? Banyak orang menyakini bahwa menghukum itu memberi efek jera kepada anak, sehingga ia tidak mengulangi perilakunya. Namun, apakah demikian kenyatannya? Alih-alih jera, Bukik menilai, hukuman sering kali melukai anak secara psikologis. “Karena hukuman itu umumnya ditentukan dan dinilai oleh orang dewasa (orang tua). Begitu pula bentuk dan kapan hukuman itu dijatuhkan.

Akibatnya, hukuman menempatkan anak pada posisi inferior, dan orang dewasa sebagai superior. Posisi inferior membuat anak tertekan dan ini justru menimbulkan rasa ingin melawan,” ujar Bukik.  Cara anak melawan itu bermacam-macam. Ada yang melawan secara langsung, sehingga ia bersikap defensif dan langsung menolak dihukum. Ada pula yang menerima hukuman, tetapi akan mengulang lagi perbuatannya ketika orang tidak melihat. Bisa jadi pula ia mengalihkan kepada bentuk-bentuk perilaku lain, misalnya berbohong untuk menutupi perbuatannya. “Jadi, intinya, hukuman tidak memberi efek jera,” tegas Bukik.

Selain itu, hukuman juga berakibat negatif bagi hubungan orang tua dan anak. Hukuman, diyakini Bukik, bisa memutus rantai orang tua untuk membantu anak. Misalnya, anak mogok sekolah, dan dia dihukum karena hal itu. Karena takut, anak menurut pergi ke sekolah. Seolah-olah persoalan selesai, padahal, mungkin, ia membutuhkan bantuan kita. “Bisa jadi di sekolah ada persoalan yang membuat dia merasa tak nyaman. Misalnya, ada anak yang mengganggunya. Atau ada guru atau pelajaran yang dirasakan anak mengintimidasi dirinya. Tapi, permasalahan anak itu tak terungkap kerana orang tua hanya fokus: ‘pokoknya anak harus pergi sekolah’,” ujar Bukik, mencontohkan.
Sumber : parenting.co.id

Share on Google Plus

About Global Web

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.

0 komentar:

Posting Komentar